Balasan Surat Untuk Akhi

Assalamu’alaikum Warrahmatullah wabarrakatuh.

Sebelumnya ana mohon maaf, jika terlalu lambat membalas surat untuk akhi. Dari semenjak kemarin, ana mempersiapkan segala ‘persiapan’ untuk mubes di LDF ana. Dan Alhamdulillah, tadi sudah terlaksana. Banyak suka duka yang terjadi hari ini. Senang, haru, sedih semua bercampur menjadi satu. Serasa menemukan separuh jiwa ana yang hilang. Rasanya sudah lama ana kurang menaruh seluruhnya hati ana pada dakwah setelah kalimat futur itu bersemi dihati ini. Dan, bahkan bukan hanya futur yang ana salahkan, terkadang ana harus menyalahkan kondisi dakwah kami yang begitu tidak rapi.

Ah… mungkin antum heran kenapa surat ana gak nyambung dengan balasan surat kemarin. Harap bisa dimaklumi, hehehe… Ana langsung cepat-cepat buka leptop silver kesayangan ana untuk berkali-kali memainkan jemari, menyusun sebuah tulisan, setelah pulang dari Mubes. Tapi kali ini sepertinya agak berbeda. Ana membuat surat balasan untuk seorang akhi. Seorang akhi, yang sudah pernah mengisi hati ini.

Langsung aja. Akhi, untuk kesekian kalinya kita bercakap-cakap. Walaupun tidak saling tatap muka, walaupun isi pembicaraannya tidak melewati batas-batas kewajaran, tapi hati merasakan sesuatu. Dibalik percakapan, timbul rasa senang.
Ana takut dibalik niat kita tersebut (Insya Allah), syeitan selalu menanti kelengahan kita. Ana takut, yang semula niat suci hanya untuk minta keridhoan Allah SWT, tercemari oleh nafsu-nafsu dunia. Mengelincirkan aktivis dakwah adalah prestasi yang lebih menantang bagi syeitan, demi dampak luas yang akan ditimbulkannya. Syeitan akan dengan sangat halus, rapi, terencana, penuh kesabaran, perlahan namun pasti. Syeitan sudah memasang perangkapnya dihati ini. Ana takut hati yang semula ikhlas, menjadi timbul penyakit-penyakit hati. Memang, diantara kita hubungannya tak lebih dari persahabatan biasa, tapi kita sudah saling mengetahui perasaan satu sama lain. Mungkin antum bisa menjaga hati. Tapi ana? Ana butuh perjuangan keras.

Terkadang ana bersikap keras, atau menutup diri dengan teman-teman ikhwan ana lainnya. Tapi ketika harus berhadapan dengan antum, ana seolah-olah bersikap loyalitas terhadap perasaan. Dan, beberapa kali ana menjadikan diri ini sebagai umpan bagi akhi. Ana rasa, ana bukanlah wanita sholehah seperti yang sering dilantunkan ikhwan-ikhwan The fikr, “ Itu lah dia…. Wanita sholehah….”, (lanjutkan sendiri hehe )

Ana teringat dengan perkataan murabbi ana, “ Jika ada seorang ikhwan yang berani mengatakan perasaannya kepada seorang akhwat, berarti sudah berani untuk mengkhitbah si akhwat tersebut. Namun jika ternyata ikhwan tersebut hanya ingin mengungkapkan perasaan yang ia pendam pada waktu yang belum tepat, itu hanya akan mendzolimi hati si akhwat.”. Dan, perasaan itulah sejujurnya yang selalu ana rasakan ( tapi tenang….itu dulu, sekarang kadarnya sudah mulai menurun ).

Ana juga sudah pernah menceritakan kepada akhi, bagaimana kondisi dakwah dikampus ana. Juga cerita tentang kakak tingkat kami - yang tak hanya satu orang- yang bahasa kasarnya ‘telah menodai jalan dakwah’ dan tidak memberikan contoh baik pada kader-kader baru kami. Ana tidak mau menjadi munafik hanya karena mementingkan perasaan ana. Ya, ana tau… hubungan kita biasa-biasa aja. Tapi ana merasa, ana juga menjadi bagian dari apa yang tidak baik atas perilaku yang telah dicontohkan oleh kakak-kakak tingkat ana. Meski kita berdua selalu menjaga dan berusaha untuk mencapai kata “syar’I”, tapi tetap saja akh, ana merasa menjadi bagian atas ketidakberhasilan jalan dakwah dikampus ana. Bisa jadi suatu lembaga dakwah akan menjadi hancur, karena didalamnya ada anggotanya yang berbuat maksiat. Sama halnya seperti najis satu tetes, yang ternyata dapat merusak kesucian satu gentong air. Karena najis itu itu akan merusak kesucian semangat teman-temannya yang lain dalam dakwah ini.
Jujur, ana sering merasakan takut ketika harus kehilangan antum, semenjak pertama kali antum sampaikan perasaan itu pada ana. Sehingga, sering kali itu yang membuat ana ingin tetap menghubungi dan dihubungi. Meski sudah ana coba untuk menepiskannya.

Namun ternyata, Karunia Allah begitu luas. Allah begitu Romantis. Menegur ana lewat beberapa cobaan kehidupan, yang dalam rentetan ujian itu menuntut ana sebagai ‘penengah’ untuk menyelesaikan beberapa permasalahan. Terkadang itu yang sering membuat ana menangis dari segala kelalaian waktu untuk mengingatNya. Allah masih sayang. Mengirimkan ujianNya, agar dapat ana rasakan kemanisan Iman. Pertama, ana dikejutkan ketika harus mengetahui sahabat dekat ana yang berada jauh diluar kota sana, kini sudah tidak menjadi istiqomah. Beliau pacaran dengan seorang ikhwan, dengan alasan agar tetap berjodoh. Menjaga tetap jalinannya, dan memaksa ana untuk menganggap hubungan mereka sebagai proses ta’aruf yang berjalan agak lama. Dengan beruraian airmata ana mencoba untuk mengingatkan dan menyampaikan semua perasaan kecewa ana. Dan, ternyata… TETAP, ia memegang prinsipnya. Kedua, seorang sahabat lainnya meminta izin pada ana agar diperbolehkan untuk pacaran. Sambil menepiskan segala perasaan dan kekhilafan yang pernah ana lakukan pada akhi, ana tuliskan satu persatu kalimat agar sahabat ana menjadi YAKIN bahwa keinginannya itu adalah sebuah langkah yang salah. Dan ketiga….. ini teguran yang tak bisa ana lupakan atau ditepiskan. Dua sahabat dekat ana yang juga seorang aktivis, ternyata menjalin ‘hubungan spesial’. Ana dengan si akhwat bahkan sangat dekat. Ana sangat mencintainya seperti saudara kandung sendiri. Disaat itu ana betul-betul hancur akh. Dan, bisa dikatakan hati ana untuk saat ini bahkan masih basah dari keretakkan atas yang terjadi. Ana betul-betul terpukul, dikhianati oleh dua orang terdekat ana. Ana merasa begitu rapuh, mereka telah membungkus tamparan menjadi ciuman bagi ana. Setiap hari ana menangis, menuntut diri agar percaya dengan semua kenyataan yang ana hadapi. Sangat sakit, ketika harus dihempas tubuh ini oleh orang yang sangat ana sayangi. Keempat, saat ini sahabat-sahabat ana sedang dilanda yang namanya VMJ. Dan, saat ini… ana sedang dalam proses untuk meyakinkan para sahabat ana untuk tidak mengikuti perasaannya. Mungkin awalnya VMJ itu akan terasa indah, tapi kedepannya justru hanya akan membuat hati ini menjadi tersiksa jika terus diikuti apa kehendaknya. Ntah kenapa kok akhir-akhir ini virus itu banyak menjangkiti para aktivis kita. Seringkali, bahkan ana harus dikejutkan oleh beberapa ikhwah yang ternyata ‘sistem kekebalan tubuhnya’ telah kalah melawan virus itu. Hingga menjadikan antibodinya sia-sia tak bermakna, bahkan secara perlahan system pertahanannya disadari maupun tak disadari juga menjadi ikut terlisis oleh reaksi kompleks dari semua keadaan itu. Sederetan ujian ini ana rasa sudah cukup. Ana ingin menata hati ini lagi. Ana tak memiliki alasan untuk tidak mendengarkan teguranNya. Ana tau, ujian ini tak hanya sebagai teguran, tapi juga sebagai karma atas kekhilafan ana.

Ana anggap semua ini, menjadi sebuah proses bagi ana agar dapat secara perlahan melupakan antum. Dan…… mungkin ini buah dari proses tersebut. Sekarang, sudah saatnya bagi ana untuk belajar mengikhlaskan ‘kepergian’ akhi.

Malam ini, ana bermunajat kepadaNya. Mohon diluruskan jalan yang akan ana tempuh. Mohon ampun atas segala kekhilafan yang telah ana lakukan sebagai makhluk yang tidak luput dari segala kealpaan. Ya Rabbi, bersihkan hati ini dari kotoran-kotoran yang membuat ana lalai dalam berbadah. Dari kejahatan-kejahatan yang terselubung yang tiada hamba sadari. Afwan, bila hal ini mengganggu antum, ini semata-mata ana lakukan buat kemaslahatan kita bersama.

Afwan, jika sekiranya selama ini ana sudah memberikan sebuah pengharapan kepada akhi. Dan, mulai semenjak kedatangannya surat ini, ana ingin perlahan men-delete semua yang berhubungan dengan akhi. Termasuk pengharapan dan yang lainnya.

Kepada akhi, yang sudah pernah mengisi hati ini. Izinkan ana berjalan dengan lapang lagi. Melangkah dengan rapi. Seperti layaknya wanita pemburu syurga lainnya. Ana ingin, suami ana nanti adalah ‘guru cinta’ pertama ana. Ana tak ingin membagi hati ini. Biarlah ia saja yang menerima dari buah ‘kesholehan diri’ ini seluruhnya. Terimakasih atas perhatiannya selama ini. Sebelumnya, ana meminta maaf dengan segala keikhlasan hati, agar akhi mau untuk memaafkan ana. Maafkan segala kesalahan dan kekhilafan yang tersadari, ataupun yang tak ana sadari. Mungkin akhi juga ingin lebih bebas melangkah. Mungkin selama ini, ana sering mengganggu, menjerat berat kaki-kaki yang ikhlas bekerja. Maafkan ana.

Hapus segala memori tentang ana. lupakan. Dan ikhlaskan. Berjalan sendiri-sendiri. BE NEW YOU..

Atau, jika sekiranya berat untuk dilakukan. Ingat saja segala keburukan ana. Semoga dari itu, dapat mengikis perlahan perasaan selama ini. Ana bukan wanita yang sholehah, akhi. Ana tak pandai menjaga diri bak bunga mawar dengan durinya. Mawar yang indah dengan warna merekahnya tetap akan menjaga dirinya dari jangkauan orang-orang yang ingin memetiknya dengan durinya. Ia menjadi sempurna. Ya, mawar menjadi sempurna dengan durinya. Durinya adalah bagian dari aturan Allah. Dan, Wanita muslimah akan menjadi sempurna dengan aturan Allah. Ana tak pandai menjaga diri bak bunga ditepi jurang. Bunga ditepi jurang tak akan dengan mudahnya dijangkau oleh sembarang orang. Hanya pemetik sejati yang datang mencarinya ditepi jurang, dengan perjuangan dan pengorbanannya. Datang mengkhitbah dengan kesungguhan diri.

Sekali lagi. Ingat saja segala keburukan ana. Semoga dari itu, dapat mengikis perlahan perasaan selama ini.

“Maafkanlah sgala khilaf, yang tlah kita lewati. Tlah membawamu kedalam jalan yang melupakan Tuhan. Kita memang harus berpisah ‘tuk menjaga diri. Untuk kembali arungi hidup dalam ridho Illahi…”

Sepertinya, tak perlu berpuitis panjang lagi akh. Afwan jika ada kata-kata ana yang salah. (semoga itu juga bisa menjadi salah satu alasan untuk membenci ana, agar terkikislah segala rasa yang pernah ada). Ana mohon maaf. Hapus dan tinggalkan semua ke khilafan yang sudah pernah kita lalui. Menghapus sejauh mungkin. Dan, biarkan semua menjadi indah pada waktunya.

Jazakumullah khairan katsira.
Wassalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh.

Andalas, negeri seribu gonjong
20 desember 2009; 20.23 WIB
NB: Terinspirasi dari note “surat untuk akhi”.
hanya fiktif, alias rekayasa.hehe

SEMUA ADALAH HIKMAH


Hari itu, aku mengukir sejuta harapan. Terpaut seribu wajah dalam sentuhan dan linangan airmata. Rautku tak berirama, tak selaras, tak berimbang. Tangan-tanganku mulai kaku. Otakku menumpul.
Kemarin, aku mendengar suara kicauan burung. Hari ini tidak. Tidak sama sekali. Langit seolah kelabu. Ada sebuah pesan silau kemarahan dibaliknya. Sedang aku, semakin tenggelam dalam dan jauh. Pandangan mereka boleh tak seindah pelangi yang kulihat sehabis hujan. Sorot mata mereka boleh tak selembut embun dipagi hari. Karna memang bukan sebuah keindahan ataupun kelembutan yang akan mereka saksikan. Melainkan sebuah keburukan. Aku tak menyalahkan siapapun, karena aku memang lebih akrab dengan julukan yang mereka berikan sebagai anak sampah yang tak berguna. Inilah kisahku…
Namaku sandi. Aku adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Ayahku adalah seorang brimob yang ditugas kerjakan di Aceh. Hidupku bisa dibilang sangat berkecukupan dengan gaji ayahku. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Semua kebutuhan keluarga kami dapat terpenuhi, tanpa pernah kekurangan.  Dan, inilah awal kisahku. Kisah, yang mengantarkanku mengapa bisa begini.
Dulu, saat aku baru mulai merasakan menjadi siswa dibangku SMP, ayahku pensiun dari kerjanya sebagai brimob. Aku sempat sedih sekali. Kehidupanku tak seperti yang dulu lagi. Hari-hari kami lalui dengan serba kekurangan. Aku sempat bertanya pada ayah, kenapa ayah berhenti. Ayah hanya menjawab, “senior ayah ada yang tidak suka dengan kesuksesan ayah.” Aku hanya diam.
Semakin lama waktu berjalan, aku pun semakin besar. Aku sudah berusia 14 tahun, tepatnya kelas 3 SMP. Selama itu juga aku harus tampil dengan kehidupan baruku yang selalu dan serba kekurangan. Tak hanya itu, perangai ayahku mulai berubah perlahan-lahan namun pasti. Perangai ayah yang selalu membuat ibu menangis setiap hari. Dana pensiun ayah juga yang sangat minim itu semua habis hanya untuk kesenangannya berhura-hura dan memiliki istri simpanan. Ayah tak pernah lagi peduli pada ibu, aku dan kakak-kakakku.
Setiap ayah pulang, ayah selalu saja memarahi ibu. Menurutku apa yang ibu lakukan adalah wajar. Ibu hanya meminta uang untuk kebutuhan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan aku dan katiga kakakku. Tapi apa yang dilakukan ayah? Ayah malah balik memarahi ibu. Ayah selalu saja bertengkar dengan ibu. Aku berfikir, ayah mungkin sudah tak lagi peduli pada kami. Yang ada didalam fikiran ayah hanyalah bagaimana mencukupi kehidupan ayah yang bebas itu.
Saat itu perasaanku semakin terpuruk. Terpuruk bukan karna hanya memikirkan kehidupanku yang kekurangan, bukan hanya memikirkan ayahku yang tidak lagi peduli pada kami, bukan juga ingatanku pada perkelahian ayah dan ibu, tapi juga tentang sekolahku. Sekolah, yang dimana aku bisa memiliki teman banyak, guru-guru dan segudang pengetahuan yang dapat mengasah pola fikirku. Aku terpaksa berhenti sekolah setelah lulus SMP karna sudah tidak ada dana lagi. Semua harus aku telan sendiri. Bahkan masih terbayang raut keceriaan teman-temanku. Masih terbayang gelak tawa kami bersama guru-guru saat SMP dulu. Dan sekarang, jangan pernah berharap lagi. Karna aku tak mungkin bisa melanjutkan kebangku SMA, sekolahnya pelajar berseragam abu-abu.
Aku teringat perkataan ibu saat tidak ada makanan dirumah, “Nak, untuk makan hari ini gak ada, maafkan ibuu…ibu gak ada uang untuk beli beras. Pergilah ketempat temanmu, numpang makan disana. Ibu minta maaf, nak..”
Aaahh….serasa ada sumbatan keras ditenggorokanku. Kutahan kuat-kuat airmata yang hampir saja menetes. Aku anak laki-laki, harus tegar didepan ibu. Jujur, aku tak tega melihat ibu yang terus begini. Kakakku yang lainpun tidak bisa membantu memberikan beberapa uang untuk memenuhi kebutuhan kami. Kakakku yang bernama Lisa, menikah dengan seorang pedagang kecil-kecilan. Dari hasil kerjanya untuk makan sehari-hari mereka saja tidak cukup apalagi untuk memberikan ibu uang belanja. Sedang abangku yang bernama Angga, hanya seorang satpam Rumah Sakit yang gajinya habis untuk membayar cicilan motornya dan kehidupan keluarganya. Dan Abangku yang nomor tiga, bang Sultan, beliaulah yang selama ini menemaniku dari kecil hingga sekarang, juga menjadi pengganti ayah disisiku. Bang sultan yang paling mengerti dengan keadaanku, aku selalu curhat apapun dengan bang sultan.
“Ndi, kalau begini terus, ibu bakal sakit karena beban fikiran. Untuk kita makanpun susah ndi… Abang bukannya mau niat jelek dan ingin menjerumuskanmu seperti ini. Tapi keadaan yang memaksa kita supaya begini. Mau gak kamu ikut abang cari uang?”
Dengan wajah bingung, aku mencerna ajakan abangku. Aku hanya diam memikirkan apa yang akan kami lakukan. Abang membawaku naik motor supra-nya melaju ketempat keramaian.
“Jambreeeeeeeeeeeeeeetttt!!!”, terdengar pekikan histeris dari wanita paruh baya dengan gaya necisnya. Aku kaget. Shock! Nafasku kembang kempis. Aku melihat abang segera menggas motornya dengan kecepatan tinggi melesat dan hilang dari balik keramaian menuju kedalam gang-gang kecil.
“Bang!!!ngapain kita ni?? Kenapa gak bilang sebelumnya kalau abang akan melakukan kerjaan yang sekotor ini? Ngeri tau gak bang…. Aku gak mau!!!”
Aku pun cepat-cepat turun dari motor dan meninggalkan abangku tanpa sepatah katapun.  Abang hanya menatapku kosong hingga aku pergi dan hilang dari pandangannya.
Masih tak terfikirkan olehku abang akan nekad seperti itu. Abang yang selama ini aku banggakan sekaligus menjadi pengganti ayah disisiku ternyata adalah seorang penjambret….aku tak menyangka.


@@@@@@
“Nal, kita cari uang yuk… ada gak ya yang mau menerima kita yang masih kecil gini?”, dengan tatapan bingung dan kerutan tajam aku bertanya pada Ronal, sahabat dekatku.  Ronal adalah sahabat yang paling dekat dan juga mengerti denganku setelah bang sultan. Ronal biasa dipanggil Ceper. Kehidupan keluarganya juga serba kekurangan dan tak jauh berbeda denganku.
“Peng”, begitu nama panggilanku yang biasa dipanggil oleh teman-teman. “Ikutlah denganku jadi tukang parkir, lumayanlaah..buat uang jajan”. Sambil tersenyum dengan gingsulnya yang menyeringis, akupun menyetujui tawarannya menjadi tukang parkir bersama Ronal.
Seminggu, dua minggu, aku menghitung-hitung penghasilan perminggu yang kudapatkan dari pekerjaanku sebagai tukang parkir ini, ternyata hanya Rp. 150.000,-. Dalam seminggu, aku hanya berkerja 3 hari, itupun sudah kusisihkan untuk ibuku Rp.30.000, agar ibu bisa belanja. Tapi dengan uang yang segitu, aku masih merasa belum cukup untuk membiayai kehidupanku dan ibu. Aku pernah, ketika ayah pulang, aku curi uang ayah Rp.100.000 dari dompetnya kemudian aku berikan pada ibu. Itupun kalau ada.
Tiba-tiba otakku berkerja keras memikirkan bagaimana agar aku dapat memenuhi kebutuhan aku dan ibu. Terlintas olehku tentang beberapa hari yang lalu tentang Bang Sultan. Atau…aku ikuti saja pekerjaan Bang Sultan??? “aaaahh….jangan. aku tidak boleh sempat terfikirkan untuk ikut-ikutan melakukan pekerjaan kotor itu. Aku tidak akan pernah mauuu!!!” tekadku mengeras.
Esok harinya, ketika aku sedang sibuk mengatur parkiran, Ronal si ceper datang, “Peng..lihat helm baruku, baguskan?” soraknya bahagia. Akupun ikut senang. Kemudian tanganku meraih helm itu, meskipun bekas tapi masih bagus.
“Darimana kau dapatkan peng? Hebat kau sekarang yaa…mewah hidup kau lagi..hahahahahaha”, sindirku padanya.
“Iyalah, tau gak?? Eh..tapi diam-diam aja yaa!! Ini curian, tau!! Ku ambil waktu nambang kemaren. Lumayanlah kalau dijual Rp.50.000 bisalah buat beli rokok. Haahahaahahaa..”
Aku cuma bisa terdiam. Ntah apa didalam benakku. Terbayang lagi wajah abang. Ternyata aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan abang, karna ini juga tuntutan. Kehidupan yang serba kekurangan inilah yang menuntut dan memaksa mereka untuk begini.
Terfikirkan olehku keuntungan-keuntungan yang bisa didapat dari hasil curian ceper. Mhm…. “Kawaan….ikutkanlah aku. Ajak-ajaklah. Jangan main sendiri aja kau. Aku juga mau nambah-nambah uang jajan sama uang belanja ibu ku.” dengan tampangku memelas.
“Boleh-boleh, okelah kalau gitu. Besok kita operasi yaa!! Siap kawan?”
“Okeee”, jawabku riang.
Akhirnya, satu sampai dua helm kami curi dari motor dalam sehari. Uang penghasilanku pun lumayan bisa bantu-bantu ibu. Ketika ayah dan ibu bertanya darimana uang ini, aku bilang dari hasil uang parkiran yang sengaja kusisihkan untuk ibu. Semenjak itu ibu mulai ceria dan tak murung lagi. Walau uang pas-pasan tapi ibu tidak pernah lagi berkata tak ada beras.
Seminggu, dua minggu, aku jalani pekerjaan kotorku itu dengan lancar-lancar saja. Akupun kembali mencari abangku dan meminta maaf padanya. Kemudian aku mulai ikut abang untuk menjambret, sehingga lama kelamaan aku semakin suka bergelut dengan pekerjaan seperti ini. Hidupku pun membaik. Tapi selama perjalanan itu, tak selalu lancar. Kadang kami hampir dihakimi masa, untung saja kami mampu berlari dengan kencang dan tidak tertangkap.
@@@@@@

Siang itu, tepatnya jam 2 dirumah, abang datang membawa temannya bernama Labay. Aku pun berkenalan dengannya, ternyata ia adalah spesialis dalam pencurian motor. Tiga jam lamanya kami berbincang, ilmu barupun aku dapatkan. Kami bertiga langsung mulai mencoba mengaplikasikan cara yang diajarkan Labay pada kami.
Hari pertama, kami gagal. Hari keduapun gagal. Tapi pada hari ketiga, kami berhasil menggaet mio merah diparkiran kampus Unand. Jantung kami berdebar bercampur cemas  dan senang. Kami menjual motor itu ke perantara seharga 2 juta, kemudian hasil penjualan itu kami bagi bertiga. Seterusnya akupun menjadi ahli dalam dunia curanmor. Akupun bermain sendiri, aku mulai lepas dari Bang Sultan dan Labay. Ku ajak juga temanku Ceper untuk menjalankan aksi ini berdua.
Dua tahun kujalani hidup seperti ini. Akhirnya aku pun bisa melanjutkan sekolah lagi. Aku bisa menjadi siswa SMA dan bertemu teman-teman. Hidupku juga berkecukupan, bahkan biaya sekolah aku tanggung sendiri. Tapi, pada suatu hari…….
“ANGKAT TANGAN!!! KAMU SUDAH KALAH!!” borgol ketat disumbatkan ke kedua pergelangan tanganku. Aku yang masih baru bangun tidur tersentak. Ibu menangis, ayah hanya terdiam cemas. Kakak menangis dan abang-abangku terpaku membisu melihatku. Aku hanya pasrah. Aku sudah tertangkap oleh kepolisian POLDA SUMBAR karena kasusku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku kalah. Inilah buah dari pekerjaanku.
Tiga hari ku didalam penjara tahanan. Ibu dan ayah datang. Mereka iba melihat tubuhku yang lemah. Banyak bekas memar ditubuhku karna selama proses penyidikan aku lebih banyak tidak terbuka. Hasilnya beginilah, aku dicambuk, disentrum listrik dan dipukuli. Ibu menangis memelukku..
“Nak, maafkan ibu…. Ibu gak bisa jadi ibu yang baik untukmu nak… ibu tak menyalahkanmu atas perbuatanmu. Ibu yang salah. Ibu gak bisa mencukupi kebutuhanmu sebagai anak ibu….”
Airmata tulusnya mengalir membasahi pipiku. Aku peluk ibu erat-erat. Ku tahan tangisku. Ku redam sedihku. Aku coba tegar agar ibu tenang. Hatiku betul-betul hancur melihat mereka berdua, sedihku bercampur penyesalan didalam hati. Aku sangat sayang sama ibu. Aku tak tega melihat airmata kesedihannya mengalir didepan mataku. Setelah itu ayahpun ikut memelukku sampai menangis terisak-isak. Hari itu entah kenapa, aku merasakan bagai baru punya ayah lagi. Ayah memelukku kuat sambil bercucuran airmata.
“Ndi, maafkan ayah juga ya. Ayah janji tak akan menyia-nyiakan kamu lagi, ndi..”
Dadaku bergetar. Serasa jiwaku terbang jauh. Mungkin ini semua jalan Allah SWT kepadaku, buah do’aku selama ini. Semua ada hikmahnya, walau aku harus dibalik jeruji besi kokoh ini. Namun aku bahagia bisa kembali ke dekapan ayah. Dan saat itu, ayah berubah drastis. Ayah mulai bekerja di Toko bangunan dekat rumahku. Bang Sultan juga ikut bekerja bersama ayah. Bang Angga pun lolos test Brimob. Hidup kami sekarang semakin membaik, meski aku harus terpisah dari mereka. Tapi, dari balik tiang-tiang besi ini aku tersenyum bahagia.

Inspiration by: Julio Fernanda
Created by: Zhacky Emergency

PanggilanMu Meniti Ilahi



“Duuuaaaaarrrr…………..”
Tiba-tiba adegan terhenti sejenak. Tubuh gadis itu terhempas berdebum dilantai. Secarik kejadian mengisyaratkan kecelakaan besar telah terjadi. Tabrakan maut baru saja berjalan dalam skenario. Terlihat darah merah kental mulai menyebar pelan disekitarnya. Bising menghilang, semua terdiam, angin berhenti, nafas juga terhenti. Semua membelalakkan mata.
“Tidaaaaaaaaaaaakk……anakku”, seorang wanita tua dengan banyak kerutan diwajahnya serta rambut yang memutih seluruhnya datang dengan berlari terengah-engah. Ia berteriak histeris. Diguncang-guncangnya tubuh gadis itu untuk memastikan masih ada sedikit nyawa disana.
Ia mengeluarkan foto kusam dari balik sakunya, sambil mengatakan, “Nak…… lihatlah ini… kamu ternyata adalah anakku… maafkan ibu naaaaakk……….”
“Naaak……..bangun nak….”
Tangan gadis itu bergerak sedikit. Dibuka perlahan matanya sambil tersenyum, kemudian gadis itu memejamkan matanya kembali. Tubuhnya terkulai lemas. Malaikat maut berpakaian putih dengan sayap bulu angsa segera datang dari balik tirai birunya. Kini ia berdiri dibelakang mereka sembari menarik ruh gadis itu.
Lagi-lagi. Bising menghilang, semua terdiam, angin berhenti, nafas juga terhenti. Semua membelalakkan mata.
Kemudian layar merah menutup panggung diiringi musik kesedihan. Terdengar tepuk tangan membahana dimana-mana. Beberapa masih ada yang gusar hatinya, beberapa yang lain ada yang mencoba mengatur nafas lagi.
Hebaatt…keren!!!
Sedangkan dibelakang layar, dua wanita ini tersenyum senang dengan rasa bangga yang menyelimut. Mereka terkekeh-kekeh, disusul teman-temannya yang lain.
“Mantab aktingmu Yul, lihat tuh penonton disana, pada nangis semua kamu buat.”
 “Hehehe…biasa aja”, jawab Yuli mencoba merendah, aktor ‘si gadis’ pada pementasan teater tadi. Sambil beradu pujian, gelak tawa mereka lepas semua, mulai yang hanya sebagai penata lampu sampai pemeran penyapu jalanan.
Tiba-tiba, seorang pria tinggi semampai lengkap dengan celana dasar -penanda sebagai penghuni mesjid kampus- lewat. Srrreeett…….Ya, hanya lewat. Kebetulan lokasi belakang panggung tepat ditangah jalan menuju mesjid. Angin kemudian berhembus searah kepergiannya. Daun-daun berguguran. Darah Yuli berdesir. Pembicaraan berhenti sejenak. Pria bercelana dasar telah merampas senjanya hari itu.
 “Yuli?! Hahahaha…loe naksir ya sama anak mesjid itu?hihi…”, pemeran ibu tua berambut putih bernama Icha, memainkan tangannya keatas-kebawah didepan wajah Yuli.
“Aah…siapa bilang? Gak ah…”, jawab Yuli mengelak. Rupanya balon khayal Yuli menghiasi langit-langit.
“ Cha…gue mau masuk organisasi mahasiswa muslim, gimana menurut loe???”
“Haaaa…??? Gak, loe fokus teater aja. Kita senior berat disini. Artis kampus, bro….”, jawab Icha sambil membesarkan matanya kuat-kuat dengan telunjuknya diarahkan  kewajah Yuli. Ia cuma bisa manyun. Tapi diam-diam Yuli menyusun strategi lain.


Diantara kerumunan wanita yang akrab disapa akhwat dan kerumunan pria yang juga akrab disapa ikhwan, ternyata ada wajah asing seorang. Wajah asing itu Yuli. Eh, bukan bukan bukan, maksudnya wajahnya memang familiar dijagat kampus, tapi kali ini ia terlihat asing, karna berada diperkumpulan yang berbeda. Yuli datang memenuhi undangan yang rutin dikirim oleh anak-anak mesjid ke forum teaternya setiap dua minggu sekali.
Tapi seiring acara berlangsung, ia melihat banyak gaya pergaulan yang bertentangan dari konsep pergaulan islami. Yang ia tahu saat sekolah di Madrasah Aliyah dulu, antara laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur baur, bercanda riang tanpa alasan syar’i, menjaga batasan, juga bahkan dilarang saling berjabat tangan atau bersentuhan antara lain muhrim. Ah….. ternyata sama aja mereka, gumamnya.
Yuli terus saja menggerutu dalam hatinya, sedang sang pangeran yang ia cari juga tak kunjung terlihat. Sampai akhirnya, kebetulan dalam acara perkumpulan kali itu dibuka sesi studi kasus untuk membahas suatu masalah kemudian akan didiskusikan bersama. Waw, kesempatan gue nih….bisiknya senang.
Dengan sedikit kemampuan memukau panggung ala teaternya, ia langsung berdiri mengacungkan tangan memohon bicara.
Puluhan pasang mata menyorot bidiknya kearah Yuli. Dengan nada tegas, ia membuka diskusi pertama. “Gimana pendapat kalian, jika sekiranya ada organisasi islam dikampus kita, tapi ternyata orang-orang didalamnya gak jaga hijab, sama aja seperti yang lain???”
Kemudian beberapa orang mencoba untuk menjawab. Ada yang pro, ada yang kontra. Setiap statement aneh dari mereka yang ia anggap sebagai pembangkangan dari nalarnya, ia balas habis-habisan. Taaar….taaar…taaar….begitu gambarannya, semua ditembak dengan kata-katanya dan satu persatu dari mereka berguguran.
“Sesungguhnya seseorang diantaramu ditikam dari kepalanya dengan jarum dari besi adalah lebih baik daripada menyentuh seseorang yang bukan mahramnya”, Yuli menyambung gagasannya, kali ini hadist Thabrani ia keluarkan. Orang-orang bertambah keheranannya. Heh! Jangan salah sangka. Gini-gini bintang kelas saat Madrasah dulu. Meskipun ia tau, sebenarnya teori-teori itu tak pernah ia terapkan lagi saat ini.
Lalu, tanpa ada petir, riak, gelombang, hujan, bahkan badai, sesosok pria berdiri memohon bicara. Peserta lainnya mencoba mengheningkan suara agar lebih mudah menangkap apa yang ingin disampaikan pria ini. Yuli tersenyum lebar. Ternyata pria itu, pria bercelana dasar incarannya. Perlahan hatinya berdegub kencang. Ia takut kalau ternyata pria bercelana dasar ini malah ikut-ikutan menjadi musuh dalam selimut.
“Saya rasa memang benar apa yang dikatakan saudari kita. Kita sudah jauh dari pergaulan islami. Ini dilema yang sudah lama ingin saya sampaikan kepada teman-teman. Hanya saja saya masih belum menemukan waktu yang tepat. Sudah saatnya kita benahi lagi pergaulan ini. Mulai membenahi semua, terutama hijab, batasan-batasan……..bla…,bla…,bla..”, pemaparan pria bercelana dasar semakin lama tak tertangkap lagi dalam otak Yuli, mungkin bisa dilihat kakinya sudah tak memijak tanah. Mhm……Dasar yuli!!!
Selesai acara. Pria bercelana dasar ini menghampirinya. Hatinya spontan berbunga-bunga.
“Maaf atas kejadian tadi. Saya tidak menyangka ternyata juga ada yang merasakan ketidaknyamanan dari pandangan yang kurang baik ini. Teman-teman disini memang sudah lupa dengan hal penting itu. Oh ya…mau ya ikut Pengajian rutin setiap hari sabtu jam 10 pagi dimesjid Ukhuwah”.
“Oooh….o..oke…saaa…saya ikut.”, cepat-cepat ia jawab dengan nada tergagap. Rupanya bakat aktingnya tak berperan disini. Sebenarnya ia kurang tahu maksudnya pengajian rutin itu apa. Tapi, siapa peduli?
Waktu terus berjalan. Hingga tibalah hari yang ia tunggu-tunggu, sabtu jam 10 pagi dimesjid ukhuwah. Yuli dengan pakaian sederhananya mulai melangkahkan kaki untuk bersiap-siap menimba ilmu, sekaligus menyelam minum air. Rutinitas ini terus berjalan. Dari minggu ke minggu, bulan ke bulan. Hingga genap dua tahun sudah lamanya. Tanpa sadar, Yuli berkembang bak mawar berduri. Cantik, anggun, terjaga pandangan juga pergaulannya. Mhm…. memang, tarbiyah bukanlah segala-galanya, tapi tanpa tarbiyah segala-galanya tidak dapat diraih. Ia terlihat lebih bijaksana. Senyumnya lembut, tatapannya menyegarkan. Setiap kata-katanya dapat menjadi penyemangat teman-teman yang lain, seakan ada energi isi ulang saat melihat keteduhannya. Wah…ada apa ini???
“Kelompok Khadijah”, begitu nama yang diberikan pada kelompok khusus akhwat yang Yuli ikuti selama ini. Disitu ia ditempa kiri kanan, atas bawah, bak besi agar layak pakai. Dia bahkan baru tau, ternyata kaki juga masih aurat bagi wanita. Akhirnya kini kaus kaki warna-warni selalu menghias dibalik sendal sepatunya. Pakaian dilonggarkannya. Jilbab dirapikannya hingga menutup dada. Tak lupa sedikit sentuhan atribut, manset tangan yang serasi lembut dengan warna bajunya. Al-qur’an tafsir beserta al-ma’tsurat berwarna merah maron juga kini selalu berada dalam tasnya. Bicaranya kini tentang siroh nabawiyah, islam, iman, dan lain-lain. Mhm…………..
Tapi ngomong-ngomong, kemana target awalnya ya? Si pria becelana dasar yang sudah ia ketahui kini namanya, Agus.
Oh…..rupanya Agus ini sudah mulai ia lupakan. Atau bahkan sudah terlupakan. Kini ia dimabukkan rasa cinta yang menyelimut kepada Sang Pemilik Cinta Rabbul Izzati dan RasulNya. Ada kerinduan dalam energi besar bagi nuraninya yang menginginkan perubahan. Iya, ia menginginkan perubahan. Tak tanggung-tanggung, bahkan kini ia masuk dalam jajaran para aktivis dakwah.
“Kita harus merindukan Rasulullah Cha…itu yang akan membuat kita semakin berharga nanti saat menghadap Allah!”, celetuk Yuli sepulang dari Ta’lim, mencoba untuk mendakwahi sahabat satu kost nya ini.
 “Ciee…yang dah jadi bu Ustadz sekarang”.
“Eh…bukan gitu Cha…ini serius. Diakhirat nanti, Allah akan mengumpulkan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Nah, kalau kita cinta sama Rasulullah, meskipun amalan kita tak sebaik beliau, kita bisa dikumpulkan sama-sama.. Enak gak tuh???”. Icha cuma bisa nyengir-nyengir dengan perasaan bersalah.

Sejak dari tadi pagi Yuli berdiam diri. Wajahnya kusut, ditekuknya seperti kertas lipat. Tak banyak kata-kata yang ia keluarkan. Biasanya sebelum subuh, Yuli sudah mulai membuat keributan membangunkan teman-temannya untuk sholat subuh berjamaah. Hari ini tidak. Bahkan ia tak pergi kekampus.
“Bolos ya Yul…???”, tanya Icha heran.
“Demam nih. Gak enak badan”.
Icha langsung menempelkan punggung tangannya ke kening Yuli. “Whhooy..mana panas ini! Sehat wal’afiaaat!!!”, teriak icha. Yuli tak menghiraukannya. Ia masih dengan wajah kusutnya. Cepat-cepat ia kunci pintu kamarnya, menyendiri.
Ditatapnya lagi layar handphone berwarnanya. Kotak masuknya penuh dengan SMS dari seorang ikhwan yang sudah membuat hatinya ternodai. Yuli terkena virus merah jambu! Ikhwan ini adalah…..si pria bercelana dasar, Agus.
Badannya langsung panas. Serasa bulan terbit disiang hari, tak menyangka sosok ikhwan teladan pertama kali yang ia kenal dalam dunia dakwah ternyata melempar statement of love padanya. Dan yang membuat ia tak tentram, kalimat itu disampaikan oleh orang yang memang ia taksir dulu. Ya Allah, Ujian kah ini???
Disatu sisi, kisah cintanya bagai dayung bersambut. Terjawablah sudah penasaran dan ke-GR-annya selama ini. Tapi disisi lain, seperti ada penodaan terhadap energi besar bagi nuraninya yang merindukan perubahan. Ia teringat dengan kata murabbinya, “Bisa jadi suatu lembaga dakwah akan menjadi hancur, karena didalamnya ada anggotanya yang berbuat maksiat. Sama halnya seperti najis satu tetes, yang ternyata dapat merusak kesucian satu gentong air. Karena najis itu itu akan merusak kesucian semangat teman-temannya yang lain dalam dakwah ini.”
Atau kalimat yang lainnya, “Jika ada seorang ikhwan yang berani mengatakan perasaannya kepada seorang akhwat, berarti sudah berani untuk mengkhitbah si akhwat tersebut. Namun jika ternyata ikhwan tersebut hanya ingin mengungkapkan perasaan yang ia pendam pada waktu yang belum tepat, itu hanya akan mendzolimi hati si akhwat”.
Begitulah, silih berganti kalimat nasehat menari-nari dalam fikirannya. Seperti peraduan malaikat putih dan syetan merah. Siapa yang menang?
Hari berlalu… masih dalam perang hati antara yang haq dan bathil. Dan dengarkan apa keputusannya, “ Ya Allah…lebih baik kugadaikan sejuta rasa ini agar dapat membayar cintaku padaMu, daripada harus kugadaikan akhiratMu hanya karna nafsuku. Cukup suamiku kelak sajalah sebagai guru cinta pertamaku. Semoga keputusan ini membuat Allah Ridho, dan ia berikan jodoh yang terbaik untukku. amin”.
Wouw…keren! Saya sebagai penulis, akan mendoakannya, “ Ya Allah….jagalah hati hamba-hambaMu yang sedang belajar untuk istiqomah”.
Ujian cinta tahap awal bisa dinyatakan lulus. Cinta emang fitrah, tapi kita punya ‘fu-ad’ euy, untuk memberikan ruang fikir dalam menghadapi masalah. Disaat pemuda biasa lainnya berlumuran perintegrasian syahwat, mengumbar nafsu sana-sini. Disaat ada aktivis yang menodai jalan dakwah lewat HTSnya. Justru dibenua sebelah sini, seorang akhwat mencoba untuk menjaga kesholehan dirinya. Karena ketahuilah, sesuatu yang dimulai dari yang tidak Allah Ridhoi, maka akan berakhir berantakan, tercabik-cabik oleh kebangkangan hati. Tapi, jika kita berusaha meninggalkan yang haram, untuk mendapatkan yang halal, maka Allah akan memberikan lebih dari yang kita inginkan. Dakwah adalah sesuatu yang suci. Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri). Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)...

           
Semester akhir diperkuliahan. By the way, sepertinya cerita ini pakai episode marathon ya? Hehehe…tak bermaksud kejar tayang. Memang belum masuk kepada yang intinya. Oke lanjut…
15 November
            Puluhan toga hitam berjejal sesak didalam gedung besar. Hari itu, ratusan mahasiswa menanti kata usai dari perjalanan dalam status mahasiswanya. Para dosen yang mereka banggakan hadir dengan penuh wibawa, sebagai suatu kegemilangan telah mencetak putra bangsa. Dibalik itu, ada kisah mahasiswa berprestasi dengan IP yang selalu kumlout, ada kisah mahasiswa nasakom (nilai satu koma), ada kisah mahasiswa dengan sosialitas tinggi dalam berbagai organisasi, ada mahasiswa yang hanya mengenal jalan pulang antara kampus dan kostnya, ada kisah mahasiswa yang hadir dengan prinsip-prinsip dari ideologisnya, ada mahasiswa yang terpaksa membebek budaya entah darimana datangnya. Semua beragam. Tapi ada kisah menarik dari Yuli…..
            Sosok anggun seorang ibu masuk perlahan kedalam gedung wisuda memesona. Sosok cinta dengan penuh balutan keanggunan seorang wanita. Seperti sedang menjaga dengan kehangatan pelukan. Ruangan seakan menyeruak, aroma bunga-bunga lengkap dengan penggambaran imajinasi menari-nari menghias sekelilingnya.
            Ada calon jundi dakwah yang sedang tertidur lelap didalam rahimnya. Ya, ‘Aisyah kecil sedang menghitung hari. Kelak, ‘Aisyah kecil-nyalah yang akan menyalakan lampu untuk melanjutkan mimpi indah yang belum ia selesaikan. Menebarkan kebajikan, menghentikkan kebiadaban, menyeru pada keimanan. Walau duri merantaskan kaki, walau kerikil memecah telapak.


Dedicated for: Umi…… ^_^
Dedicated for: " . " yang pernah menghuni �hati�..Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya .. Lalu, kucoba kembali atur gelombang asa.. Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu..

KADO UNTUK BIDADARI


25 Maret 2008
Dibawah langit kampus hijau. Awan putih diantara pelapis yang biru. Sesekali hembusan angin menghampiri bak menyampaikan pesan. Diantara penatnya langkah kaki yang kian melangkah, sembari carut marutnya kesibukan setiap orang. Kembali kutepiskan. Kini aku berusaha ‘tuk menghadirkan perasaan indah disetiap ruang didalam hati. Biarkan saja air yang mengalir terus mencari tempat terendah dari muaranya. Huf… aku sebenarnya bosan terus-terusan seperti ini.
“Eh Vin, ngapain loe masih bengong disini”, suara Ocy datang menghancurkan imajinasiku.
“Gak ada tuh, ni lagi merenungi nasib. Malang nian garis hidup ku Cy”
“Haahahahaha, gile loe.. pasti ni gara-gara nilai ujian yang baru keluarkan!? Udahlah…. Gak usah dipikirin kenapa?!” balasnya dengan suara enteng. Aku hanya menoleh sedikit sambil memonyongkan mulut beberapa senti. Ocy emang gitu orangnya, selalu tak merasa ada beban dengan perkuliahannya.
Aahh, sebel. Ujian lagi, ngebuat jimat lagi, deg-deg an lagi, clingak clinguk lagi, nyusun strategi lagi, dan… saat nilai keluar, dalam kekejutan yang sudah sangat biasa, melihat nilai “D” menyapa dengan senyuman sehangat sang mentari pagi. Seraya berkata “ Loe Lagi-Loe Lagi.. Bosan Gue (4L-BG)”. Terang aja, kuliah kedokteran ini menuntutku untuk mengeluarkan tenaga yang lebih, semangat yang lebih, keikhlasan yang lebih, waktu belajar yang lebih, juga menyendiri dengan tumpukan buku yang lebih. Hingga semuanya perlahan-lahan memangkas seluruh waktu untuk kesenanganku.
 “Vin, loe dah tau belum. Rina jadian ma bang Asep”, potong Ocy.
“What!!! Yang bener aja. Tuh cowo’ kan rajanya playboy kelas kakap dikota Padang. Kok Rina gak ada cerita-cerita dulu ma kita? ”, timpalku kaget dengan mata terbelalak.
“Gak tau Vin. Paling nanti kalau ada masalah, baru dia nyari kita. Hehehehe” , tambah Ocy lagi.
Rina menurutku anaknya baik, sopan, dan juga pintar. Dia juga anak kesayangan kedua orangtuanya. Rina mungkin sudah masuk dalam urutan ke 14 dari beberapa mantan wanita-wanita yang pernah digaet Bang Asep dikampus ini. Aku jadi kasian dengan Rina. Dia terlalu polos untuk dipengaruhi dengan Bang Asep si Playboy ikan kakap itu. Ini bisa dibilang pacaran pertamanya.
“Tiit..tiit…”, handphone ku menyapa.
“Dari K@rmiEn: Siang&mlm slalu Q nnti jwbmu. Adkh kw ingn mbls cntaQ,hney?”, Hii…. Dasar si karmin norak. Masih juga ngeganggu. Ugh….!
“Ke K@rmiEn: gw pobia ma cwo’, aplg elo! Jgn gnggu gw lg. Ok?”, mesti dibilang berapa kali juga tetep aja gak ada matinya kisanak satu itu.
“Dari K@rmiEn: Tga bgt lo y vin. Glak lo. Tdk smw lki-lkiiii…..”
Argh………!!! Kenapa sih, gak ada cowo’ lain aja yang ngedekatin. Kenapa yang nge-fans cuma orang macam dia. Coba seperti Tino, salah satu aktivis mesjid dikampus. Senyumnya yang selalu terpancar, membuat semua orang berdecak kagum karna keteduhannya. Tino, si wajah bersinar. Ya, si wajah bersinar. Sebutan itu lebih pantas.
5 September 2008
“Happy Birthday”
Selamat pagi dunia. Mulai mengawali hari ini dengan jiwa yang baru dan semangat yang baru. Jangan sebut Vivin yang dulu lagi. Aku mau belajar dari kesalahan, dan berhenti menghakimi. Ada suatu harapan yang harus kuukir disini. Mengajarkan kisah tentang perjuangan, pengorbanan dan kesabaran. Setiap desiran hati ini akan ku jadikan penguat dalam pahatan mahakarya. Karena menjadi besar itu, berawal dari ketika kita berfikir besar. Takkan ku biarkan jiwa yang semakin melemah ini. Wah, sejak kapan ya pandai melankolis?
Ya, diumur yang semakin tua ini (ups..), aku harus lebih bersungguh-sungguh lagi dalam belajar. Kasian ayah dan ibu, banting tulang untuk memenuhi biaya kuliahku yang tidak sedikit ini. Mereka rela mengganti malam menjadi siang, tidak tidur dalam kelamnya malam, demi mencukupi semua yang kubutuhkan. Seandainya dapat dibaca dari tiap tetesan peluh keringat mereka, ada namaku didalamnya, “untuk anakku, Vivin”. Oh… ayah, ibu.. maafkan anakmu ini. Aku pasti akan berhasil. Doctor, Wanna be!!!
Oh iya, aku hampir melupakan kado pemberian Lisna. Lisna, cewe’ jilbaber dikampus kami. Aku dengan Lisna satu tutorial semenjak semester tiga. Tutur bahasanya halus dan santun, ditambah Lisna anak yang cantik, semakin membuat ia terlihat lebih anggun dari teman-teman yang lain. Sebenarnya keinginan untuk menutup rambut hitam dengan balutan kerudung sudah sering singgah didalam hati ini. Hanya saja, aku masih takut ketinggalan mode, dibilang culun, atau bahkan dijauhi teman-teman komplotanku.
Langsung cepat-cepat kubuka bungkusan kado berwarna pink pemberian Lisna. Kubaca sebuah kartu yang bertuliskan tulisan tangan, “ Manakala nilai hidup ini hanya untuk diri kita, maka akan tampak bagi kita bahwa kehidupan kecil dan singkat. Yang dimulai sejak kita memahami arti hidup dan berakhir hingga batas umur kita. Tetapi apabila kita hidup juga untuk orang lain maka jadilah hidup ini bermakna panjang dan dalam. Bermula dari adanya kemanusiaan itu sendiri dan berlanjut sampai kita meninggalkan dunia ini. (Sayyid Quthub, Afraah Ar-ruuh) Met Ultah saudariku, Vivin. Dari sahabatmu Lisnawati”.
Mataku bergidik, kupandang erat-erat kado dari Lisna, sebuah buku. Covernya berwarna putih dan dibawahnya berwarna merah jingga. Dengan sebelah kanannya ada seorang wanita berdiri. Kutatap satu-satu tulisan besar diatasnya.
“Agar Bidadari Cemburu Padamu.”
Rasa penasaranku terus menyelimuti. Yang kutau, bidadari tak perlu merasa cemburu pada wanita dibumi ini, justru kitalah yang seharusnya cemburu karena kemuliaan bidadari. Kubuka acak halamannya,
“Dari HR Ath-Thabrani disampaikan. Aku bertanya,” Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadai yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, ”wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Aku bertanya,” mengapa wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari?”
Beliau menjawab, “Karena sholat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya diwajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas……”
Tiba-tiba saja bulu kudukku berdiri, serasa ada yang menjadi cambuk bagi diriku. Terakhir sholat saja, mungkin magrib kemaren. Seketika dalam benakku berkata: Aku ingin berubah.
“Tiit…..ttiit…” ups, handphoneku berbunyi. Dan kuharapkan bukan dari si karmin.
“ Dari Ma2x RiN@: nak vivin, rina sjk td pgi, tdk mau kluar kmar. Nak vivin bisa ksni? Ibu btuh bntuan.”
Ada apa lagi dengan Rina. Mungkin saja ini masih ada sangkut pautnya dengan Bang Asep si ikan kakap dari pasar raya itu. Dasar Bang Asep, selalu saja membuat masalah semua orang.
 
Kutancap kuat-kuat gas kuda besi pemberian ayah. Hujan semakin lebat. Angin yang seperti badai ini terus saja melawan arah putaran rodaku. Aku harus tiba sebelum terjadi hal-hal yang tidak aku inginkan. Suara handphone yang terus bergetarpun sudah tak ku hiraukan lagi. Mungkin dari mamanya Rina.
Sesampainya dirumah Rina. Dengan badan yang masih basah kuyup, aku memutuskan berhenti sejenak didepan teras rumahnya. Kubaca satu-satu SMS yang masuk sejak diperjalanan tadi. Ternyata benar, dari mamanya Rina. Tanganku semakin bergetar, hatiku berkecamuk penuh kekecewaan dan rasa ketidakpercayaan atas apa yang terjadi. Ternyata benar, Rina terlalu berfikir pendek. Aku berharap kedatanganku belumlah terlambat. Tepat didepan pintu rumahnya, sayup-sayup terdengar suara tangis. Hatiku seakan-akan dipenuhi dengan perasaan kalut, sembari bibir ini ingin melafadzkan kalimat, “Innalillahi wainnailaihi roji’un…..”
Belum jadi ku ucapkan salam. Sosok wanita tua keluar dari kamar, mamanya Rina. Juga diikuti dengan anggota keluarga lainya. Dari bendungan air mata, sudah dapat kutangkap pesan dari berita apa yang sedang terjadi. Mereka tidak mengizinkanku masuk kekamar Rina. Kini mamanya Rina mendekatiku, kemudian memberikan selembar kertas.
“Ini, tulisan terakhir Rina…”, sahut mamanya Rina dengan nada yang sebenarnya agak terpaksa untuk bersuara. Ku ambil perlahan kertas yang sedikit berbau amis dengan beberapa bekas bercak tumpahan darah itu..
“Allah bagitu jauh, ataukah aku yang tidak pantas lagi hadir dihadapannya? Aku takut perasaan ini semakin meyelimut hingga aku benar-benar jauh dari-Nya. Aku meringis kesakitan, sebenarnya kini aku menyimpan luka. Mereka semua membenciku, air matakupun juga tak berpihak padaku. Kering sudah harapan, pudar sudah cita-cita, hilang sudah kebahagiaan. Yang tertinggal hanya penyesalan yang mengubah dunia bagai neraka. Dunia begitu kejam, akhiratpun bahkan akan sangat kejam lagi bagi jiwaku. Kemana aduankan bertepi, disaat semua orang hanya memberi kalimat cercaan? Kemana luapan kan membendung hati, disaat aku merasakan Allah begitu jauh. Allah begitu jauh…….. terlalu jauh. Aku memikul sebuah dosa besar, bahkan lebih besar dari bumi dan langit ciptaanNya. Siapa yang akan peduli untuk pasang telinga tentangku? Mereka pasti hanya menghempaskan pandangan jijik.
Ingin rasanya aku akhiri semuanya. Menutup sederetan kisah luka. Malang, babak baru pasti akan menghampiri lalu memvonis jiwa yang kelam ini. Begitu sial begitu malang. Terlintas dalam benakku untuk melakukan dosa-dosa baru. Toh, aku juga nantinya akan masuk kelautan api tersebut.
Ya….aku sudah korbankan kesucian ini, lahir maupun batin. Hingga akihrnya aku hidup dalam kubangan dosa. Kepuasan sesaat yang berujung kenistaan. Yang menghantarkan kesesatan dengan jalur cepat. Pezina! Seperti sambaran guntur. Panas ditelinga. Menusuk kedalam. Setiap terucap, yang kuingat hanyalah pandangan sinis semua orang. Aku benci mereka!
Jasad yang tak memiliki ruh. Sepereti mayat berjalan. Tidak mengharapkan dunia, tidak pula mengharapkan akhirat. Itulah diriku saat ini! Aku justru menjadi aib keluarga dan beban penderitaan baru bagi kedua orangtua ku. Kalau sudah seperti ini, apalagi yang kucari? Menanti susunan kata-kata menyakitkan hingga menjadi puluhan kamus sampai ajalku datang dengan sendirinya? Dan setelah dihembusan nafas terakhir,menantikan hukuman lalu menunggu lahar panas dari Sang pemilik lautan api? Atau berkhayal mendapatkan ampunan tanpa harus menjalani hukuman dari Sang pemilik samudra maaf?
Aku fikir sudah saatnya. Tiada gunanya aku menunda. Lebih baik ku akhiri semua ini dari sekarang. Mengurangi sedikit kepedihan yang selalu menyayat. Merasakan babak baru dengan suasana berbeda, meski akan merasakan siksaan yang lebih kuat. Aku hanya ingin mereka melupakanku, dan berhenti menghina. Memberikan sedikit kelapangan bagi papa dan mama tercinta. Menutup mata rapat-rapat tanpa akan pernah terbuka lagi. Hingga tiba batas waktu bumi ini. Ma.. Pa… I Love You”
 “Astaghfirullah……….”, berulang-ulang kuucapkan, walau kalimat itu sebenarnya jarang terlontarkan dari bibir ini. Air mataku terus mendanau. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku menyesali perbuatan Rina. Kehidupan yang begitu mengerikan. Mengapa Rina harus mengambil keputusan untuk meregang nyawanya ditangan sendiri…?
Aku hanya bisa terduduk lemas. Serasa ada yang menyesak hingga ke tenggorokan. Berbagai kenanganku dengan Rinapun berkelebat. Rina, inikah hadiah ulang tahunmu untukku? Tiba-tiba aku menjadi takut dengan kematianku. Aku takut dengan pertanggungjawaban yang harus kuserahkan dihadapan Allah…
Ya Allah…. Aku takut.
26 Januari 2009
Tak terasa air mata jatuh dengan sendirinya membasahi pipi. Tubuh ini seperti dibasahi kesejukan embun. Lagi-lagi aku katakan, inilah keindahan cinta dari Sang Khalik. Puji syukur terus menyelimuti hati. Baru kali ini kegelisahan tertutup oleh ketenangan. Seakan-akan aku mendapatkan keindahan cinta yang tiada tara. Rindu itu merasuk kerongga-rongga hati. Ya, I’am falling in love. Cinta yang membuahkan kebahagiaan. Cinta yang menghasilkan ketentraman. Semuanya menyelimuti menyesak masuk ke dalam otak dari Ciptaan Sang Maha Agung ini. Bibirku tak henti-hentinya melafadzkan kalimat tahmid, bertasbih memuji keRahmanan dan ke RahimanNya…. Segala Puji Bagi Allah!!!
Kutarik nafas dalam-dalam lalu menghelanya panjang. Anugrah yang sangat indah yang kuanggap adalah saat-saat ketika aku mulai berubah dan memulai semua kehidupan dengan yang baru. Yaitu, saat ini. Sungguh besar nikmat yang diberikanNya. Pikiranku melayang jauh, terbang tinggi……
“Tiiit tiiit….”. Ups, anganku lepas.
“Dari LisN@: Aslm. Ukhti sholehah. Kni ksejukn jelitamu tlah trbalut ktduhn snr krudungmu. Hari ini, ukhti trlht lbh cntik. Ttp rndh hti, krn itu adlh pncrn mta hti. I lov u, coz Allah”
Bibirku tersenyum. Aku jadi malu sendiri dengan pujian Lisna. Insya Allah, semoga keteguhan hati ini akan tetap terus terjaga. Kini ku siap yakinkan diriku dan semua orang bahwa, AKU SEORANG MUSLIMAH. Dan, kan kubiarkan kerudung putih ini menemani pada setiap akivitasku.
Aku memutuskan untuk berhenti dari kepenatan hidupku selama ini. Semenjak kejadian itu, hatiku seperti terus berkecamuk tak karuan. Aku membutuhkan ketenangan untuk menjawab kegelisahan ini. Hingga akhirnya, setiap malamku selalu terbayang Rina, juga tempat peristirahatannya sekarang. Sampai suatu ketika, aku mencoba ‘tuk mengambil lagi kado ulang tahun dari Lisna, sebuah buku yang hanya sempat kubaca selembar itu. Entah mengapa, setiap terucap kalimat kematian dan juga akhirat, air mataku terus menetes tak berhenti. Terbayang lagi semua kisah perjalanan detik jam yang selalu kubuang sia-sia. Aku meyesal.
Aku mencoba mengambil air wudhu dan berdiri tegap –untuk pertama kalinya disepertiga malam ini– diatas sajadah. Aku takut hati ini sudah terlanjur mengeras, hingga cahaya itu sukar menembus masuk kemari.
“Lisna, terimakasih ya, kado yang kemaren itu bagus sekali.”
“ Oh…… itu memang kado untuk bidadari seperti anti”, jawabnya tersenyum sambil memegang pundakku. Aku hanya bisa tersenyum. Dan malam itu, dalam hentakan berirama kami gerakkan seluruh anggota tubuh ini menghadap kiblat dengan pandangan yang tunduk. Ya, malam itu terasa penuh hikmat.
Seperti ada pesan persahabatan dari senyum Lisna, dan barulah kuketahui bahwa inilah yang dinamakan, “Ukhuwah Islamiyah”. Ukhuwah yang tidak hanya sebatas dunia, melainkan karena ada kesamaan akidah dan harapan yang ingin dibangun dalam rumah surga. Akan ku kuatkan azzam ini untuk berubah menjadi seorang muslimah sebenarnya. Hingga bidadari dari jendela langit diatas sanapun akan kubuat ia cemburu. Begin with end of mind.
Kini……
Dibawah langit kampus hijau. Awan putih diantara pelapis yang biru. Sesekali hembusan angin menghampiri bak menyampaikan pesan. Diantara penatnya langkah kaki yang kian melangkah, sembari carut marutnya kesibukan setiap orang. Kuukir sebuah cita-cita baru. Aku ingin RidhoNya dalam setiap langkah-langkah kecil ini. Dan, akan kubuat menjadi semakin komplit seluruh anggota tubuh ini untuk bersama-sama merentas sebuah harapan yang sama. Bersama jutaan sel yang sedang bertasbih melaksanakan ibadah mereka. Niat suci itu mengalir memenuhi dalam setiap tubuh, hingga menyesak dalam setiap relung-relung organ tubuh secara keseluruhan. Tidak akan ku biarkan diriku lalai mengingatNya. Dan tak akan aku biarkan setan-setan itu mengambil andil untuk melakukan peredaran di dalam darah ini. Kini aku semakin faham, bahwa tubuh ini adalah milik Allah, otak ini, hati ini, jantung ini, tangan, kaki dan yang lainnya adalah milik Allah. Bagaimana aku dapat menuntut ilmu, jika sekiranya Allah sedang tidak ridho atas waktu-waktu yang aku habiskan bersama dengan tubuh yang Allah titipkan ini. Karena kini ku miliki cita-cita yang baru: I’am a muslimah doctor.
“Jangan lihat pakai mata kepala ukh, tapi coba lihat dengan mata hati ”, bisik Lisna perlahan sambil ketawa kecil, saat sedang praktikum anatomi. Ah, sahabatku yang satu ini. Aku menjadi semakin menyayanginya.
Ya Allah… terimakasih. Engkau telah hadiahkan padaku sahabat-sahabat yang selalu berdzikir kepadaMu. Sahabat yang selalu mengingatkanku padaMu, disaat aku merasa sangat jauh dari hidayah putih nan suci. Sahabat yang mengajarkanku selalu tentang semua jeritan kepiluan agamaMu. Sahabat yang mengajakku menyerukan kebenaran, ketika dunia sibuk dengan hangar bingar histeris hedonis yang mampu memayakan akhiratMu. Menuntunku masuk dalam barisan dakwahMu. Hingga masa muda ini, dapat kuisikan penuh dengan karya cinta, menapak bersama pada ujung kehidupan. Menjadi generasi Ibnu Sina selanjutnya. Yang hanya akan kuserahkan padaMu diatas panji Al-qur’an dan Assunah.
Aku menyesali keputusanmu Rina. Seandainya engkau mau bersabar sedikit atas semua ini, mungkin tidak akan begini jadinya. Selamat jalan sahabat. Semoga Allah mengampuni atas semua salah dan khilafmu.

 “Tiit… tiiit….”
Dari 085763082xxx : Aslm. Ukh, slmt dtang dlm ladang dakwah dkmps qt. keep istiqomah. (Tino)

5 September 2009
Teruntuk Sahabatku,
Dalam detik-detik kepergian


Aisyah Amatullah .A
FK. Univ. Baiturrahmah/07