Assalamu’alaikum Warrahmatullah wabarrakatuh.
Sebelumnya ana mohon maaf, jika terlalu lambat membalas surat untuk akhi. Dari semenjak kemarin, ana mempersiapkan segala ‘persiapan’ untuk mubes di LDF ana. Dan Alhamdulillah, tadi sudah terlaksana. Banyak suka duka yang terjadi hari ini. Senang, haru, sedih semua bercampur menjadi satu. Serasa menemukan separuh jiwa ana yang hilang. Rasanya sudah lama ana kurang menaruh seluruhnya hati ana pada dakwah setelah kalimat futur itu bersemi dihati ini. Dan, bahkan bukan hanya futur yang ana salahkan, terkadang ana harus menyalahkan kondisi dakwah kami yang begitu tidak rapi.
Ah… mungkin antum heran kenapa surat ana gak nyambung dengan balasan surat kemarin. Harap bisa dimaklumi, hehehe… Ana langsung cepat-cepat buka leptop silver kesayangan ana untuk berkali-kali memainkan jemari, menyusun sebuah tulisan, setelah pulang dari Mubes. Tapi kali ini sepertinya agak berbeda. Ana membuat surat balasan untuk seorang akhi. Seorang akhi, yang sudah pernah mengisi hati ini.
Langsung aja. Akhi, untuk kesekian kalinya kita bercakap-cakap. Walaupun tidak saling tatap muka, walaupun isi pembicaraannya tidak melewati batas-batas kewajaran, tapi hati merasakan sesuatu. Dibalik percakapan, timbul rasa senang.
Ana takut dibalik niat kita tersebut (Insya Allah), syeitan selalu menanti kelengahan kita. Ana takut, yang semula niat suci hanya untuk minta keridhoan Allah SWT, tercemari oleh nafsu-nafsu dunia. Mengelincirkan aktivis dakwah adalah prestasi yang lebih menantang bagi syeitan, demi dampak luas yang akan ditimbulkannya. Syeitan akan dengan sangat halus, rapi, terencana, penuh kesabaran, perlahan namun pasti. Syeitan sudah memasang perangkapnya dihati ini. Ana takut hati yang semula ikhlas, menjadi timbul penyakit-penyakit hati. Memang, diantara kita hubungannya tak lebih dari persahabatan biasa, tapi kita sudah saling mengetahui perasaan satu sama lain. Mungkin antum bisa menjaga hati. Tapi ana? Ana butuh perjuangan keras.
Terkadang ana bersikap keras, atau menutup diri dengan teman-teman ikhwan ana lainnya. Tapi ketika harus berhadapan dengan antum, ana seolah-olah bersikap loyalitas terhadap perasaan. Dan, beberapa kali ana menjadikan diri ini sebagai umpan bagi akhi. Ana rasa, ana bukanlah wanita sholehah seperti yang sering dilantunkan ikhwan-ikhwan The fikr, “ Itu lah dia…. Wanita sholehah….”, (lanjutkan sendiri hehe )
Ana teringat dengan perkataan murabbi ana, “ Jika ada seorang ikhwan yang berani mengatakan perasaannya kepada seorang akhwat, berarti sudah berani untuk mengkhitbah si akhwat tersebut. Namun jika ternyata ikhwan tersebut hanya ingin mengungkapkan perasaan yang ia pendam pada waktu yang belum tepat, itu hanya akan mendzolimi hati si akhwat.”. Dan, perasaan itulah sejujurnya yang selalu ana rasakan ( tapi tenang….itu dulu, sekarang kadarnya sudah mulai menurun ).
Ana juga sudah pernah menceritakan kepada akhi, bagaimana kondisi dakwah dikampus ana. Juga cerita tentang kakak tingkat kami - yang tak hanya satu orang- yang bahasa kasarnya ‘telah menodai jalan dakwah’ dan tidak memberikan contoh baik pada kader-kader baru kami. Ana tidak mau menjadi munafik hanya karena mementingkan perasaan ana. Ya, ana tau… hubungan kita biasa-biasa aja. Tapi ana merasa, ana juga menjadi bagian dari apa yang tidak baik atas perilaku yang telah dicontohkan oleh kakak-kakak tingkat ana. Meski kita berdua selalu menjaga dan berusaha untuk mencapai kata “syar’I”, tapi tetap saja akh, ana merasa menjadi bagian atas ketidakberhasilan jalan dakwah dikampus ana. Bisa jadi suatu lembaga dakwah akan menjadi hancur, karena didalamnya ada anggotanya yang berbuat maksiat. Sama halnya seperti najis satu tetes, yang ternyata dapat merusak kesucian satu gentong air. Karena najis itu itu akan merusak kesucian semangat teman-temannya yang lain dalam dakwah ini.
Jujur, ana sering merasakan takut ketika harus kehilangan antum, semenjak pertama kali antum sampaikan perasaan itu pada ana. Sehingga, sering kali itu yang membuat ana ingin tetap menghubungi dan dihubungi. Meski sudah ana coba untuk menepiskannya.
Namun ternyata, Karunia Allah begitu luas. Allah begitu Romantis. Menegur ana lewat beberapa cobaan kehidupan, yang dalam rentetan ujian itu menuntut ana sebagai ‘penengah’ untuk menyelesaikan beberapa permasalahan. Terkadang itu yang sering membuat ana menangis dari segala kelalaian waktu untuk mengingatNya. Allah masih sayang. Mengirimkan ujianNya, agar dapat ana rasakan kemanisan Iman. Pertama, ana dikejutkan ketika harus mengetahui sahabat dekat ana yang berada jauh diluar kota sana, kini sudah tidak menjadi istiqomah. Beliau pacaran dengan seorang ikhwan, dengan alasan agar tetap berjodoh. Menjaga tetap jalinannya, dan memaksa ana untuk menganggap hubungan mereka sebagai proses ta’aruf yang berjalan agak lama. Dengan beruraian airmata ana mencoba untuk mengingatkan dan menyampaikan semua perasaan kecewa ana. Dan, ternyata… TETAP, ia memegang prinsipnya. Kedua, seorang sahabat lainnya meminta izin pada ana agar diperbolehkan untuk pacaran. Sambil menepiskan segala perasaan dan kekhilafan yang pernah ana lakukan pada akhi, ana tuliskan satu persatu kalimat agar sahabat ana menjadi YAKIN bahwa keinginannya itu adalah sebuah langkah yang salah. Dan ketiga….. ini teguran yang tak bisa ana lupakan atau ditepiskan. Dua sahabat dekat ana yang juga seorang aktivis, ternyata menjalin ‘hubungan spesial’. Ana dengan si akhwat bahkan sangat dekat. Ana sangat mencintainya seperti saudara kandung sendiri. Disaat itu ana betul-betul hancur akh. Dan, bisa dikatakan hati ana untuk saat ini bahkan masih basah dari keretakkan atas yang terjadi. Ana betul-betul terpukul, dikhianati oleh dua orang terdekat ana. Ana merasa begitu rapuh, mereka telah membungkus tamparan menjadi ciuman bagi ana. Setiap hari ana menangis, menuntut diri agar percaya dengan semua kenyataan yang ana hadapi. Sangat sakit, ketika harus dihempas tubuh ini oleh orang yang sangat ana sayangi. Keempat, saat ini sahabat-sahabat ana sedang dilanda yang namanya VMJ. Dan, saat ini… ana sedang dalam proses untuk meyakinkan para sahabat ana untuk tidak mengikuti perasaannya. Mungkin awalnya VMJ itu akan terasa indah, tapi kedepannya justru hanya akan membuat hati ini menjadi tersiksa jika terus diikuti apa kehendaknya. Ntah kenapa kok akhir-akhir ini virus itu banyak menjangkiti para aktivis kita. Seringkali, bahkan ana harus dikejutkan oleh beberapa ikhwah yang ternyata ‘sistem kekebalan tubuhnya’ telah kalah melawan virus itu. Hingga menjadikan antibodinya sia-sia tak bermakna, bahkan secara perlahan system pertahanannya disadari maupun tak disadari juga menjadi ikut terlisis oleh reaksi kompleks dari semua keadaan itu. Sederetan ujian ini ana rasa sudah cukup. Ana ingin menata hati ini lagi. Ana tak memiliki alasan untuk tidak mendengarkan teguranNya. Ana tau, ujian ini tak hanya sebagai teguran, tapi juga sebagai karma atas kekhilafan ana.
Ana anggap semua ini, menjadi sebuah proses bagi ana agar dapat secara perlahan melupakan antum. Dan…… mungkin ini buah dari proses tersebut. Sekarang, sudah saatnya bagi ana untuk belajar mengikhlaskan ‘kepergian’ akhi.
Malam ini, ana bermunajat kepadaNya. Mohon diluruskan jalan yang akan ana tempuh. Mohon ampun atas segala kekhilafan yang telah ana lakukan sebagai makhluk yang tidak luput dari segala kealpaan. Ya Rabbi, bersihkan hati ini dari kotoran-kotoran yang membuat ana lalai dalam berbadah. Dari kejahatan-kejahatan yang terselubung yang tiada hamba sadari. Afwan, bila hal ini mengganggu antum, ini semata-mata ana lakukan buat kemaslahatan kita bersama.
Afwan, jika sekiranya selama ini ana sudah memberikan sebuah pengharapan kepada akhi. Dan, mulai semenjak kedatangannya surat ini, ana ingin perlahan men-delete semua yang berhubungan dengan akhi. Termasuk pengharapan dan yang lainnya.
Kepada akhi, yang sudah pernah mengisi hati ini. Izinkan ana berjalan dengan lapang lagi. Melangkah dengan rapi. Seperti layaknya wanita pemburu syurga lainnya. Ana ingin, suami ana nanti adalah ‘guru cinta’ pertama ana. Ana tak ingin membagi hati ini. Biarlah ia saja yang menerima dari buah ‘kesholehan diri’ ini seluruhnya. Terimakasih atas perhatiannya selama ini. Sebelumnya, ana meminta maaf dengan segala keikhlasan hati, agar akhi mau untuk memaafkan ana. Maafkan segala kesalahan dan kekhilafan yang tersadari, ataupun yang tak ana sadari. Mungkin akhi juga ingin lebih bebas melangkah. Mungkin selama ini, ana sering mengganggu, menjerat berat kaki-kaki yang ikhlas bekerja. Maafkan ana.
Hapus segala memori tentang ana. lupakan. Dan ikhlaskan. Berjalan sendiri-sendiri. BE NEW YOU..
Atau, jika sekiranya berat untuk dilakukan. Ingat saja segala keburukan ana. Semoga dari itu, dapat mengikis perlahan perasaan selama ini. Ana bukan wanita yang sholehah, akhi. Ana tak pandai menjaga diri bak bunga mawar dengan durinya. Mawar yang indah dengan warna merekahnya tetap akan menjaga dirinya dari jangkauan orang-orang yang ingin memetiknya dengan durinya. Ia menjadi sempurna. Ya, mawar menjadi sempurna dengan durinya. Durinya adalah bagian dari aturan Allah. Dan, Wanita muslimah akan menjadi sempurna dengan aturan Allah. Ana tak pandai menjaga diri bak bunga ditepi jurang. Bunga ditepi jurang tak akan dengan mudahnya dijangkau oleh sembarang orang. Hanya pemetik sejati yang datang mencarinya ditepi jurang, dengan perjuangan dan pengorbanannya. Datang mengkhitbah dengan kesungguhan diri.
Sekali lagi. Ingat saja segala keburukan ana. Semoga dari itu, dapat mengikis perlahan perasaan selama ini.
“Maafkanlah sgala khilaf, yang tlah kita lewati. Tlah membawamu kedalam jalan yang melupakan Tuhan. Kita memang harus berpisah ‘tuk menjaga diri. Untuk kembali arungi hidup dalam ridho Illahi…”
Sepertinya, tak perlu berpuitis panjang lagi akh. Afwan jika ada kata-kata ana yang salah. (semoga itu juga bisa menjadi salah satu alasan untuk membenci ana, agar terkikislah segala rasa yang pernah ada). Ana mohon maaf. Hapus dan tinggalkan semua ke khilafan yang sudah pernah kita lalui. Menghapus sejauh mungkin. Dan, biarkan semua menjadi indah pada waktunya.
Jazakumullah khairan katsira.
Wassalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh.
Andalas, negeri seribu gonjong
20 desember 2009; 20.23 WIB
NB: Terinspirasi dari note “surat untuk akhi”.
hanya fiktif, alias rekayasa.hehe


3 komentar:
nice posting ukhtee..mampir k blog ana juga yah ^_<
disini
Moga Alloh menjaga hati qt untuk tetap dalam ketaatan padaNya..rela dengan segala aturanNya..dan yakin ketentuanNya adalah yang terbaik.. Keep Ukhuwah for ever
whooaa...^^ sama2 ukhti..
Buy and sell cheap tiniest titanium toner - Titanium-arts
Tink Titanium Toner is a glass-plated steel 188bet block in nano titanium by babyliss pro the titanium blade shape of a metal bowl with a titanium 4000 thickness of 7.7 centimeters. It has been produced titanium ingot in three different
Posting Komentar