PanggilanMu Meniti Ilahi



“Duuuaaaaarrrr…………..”
Tiba-tiba adegan terhenti sejenak. Tubuh gadis itu terhempas berdebum dilantai. Secarik kejadian mengisyaratkan kecelakaan besar telah terjadi. Tabrakan maut baru saja berjalan dalam skenario. Terlihat darah merah kental mulai menyebar pelan disekitarnya. Bising menghilang, semua terdiam, angin berhenti, nafas juga terhenti. Semua membelalakkan mata.
“Tidaaaaaaaaaaaakk……anakku”, seorang wanita tua dengan banyak kerutan diwajahnya serta rambut yang memutih seluruhnya datang dengan berlari terengah-engah. Ia berteriak histeris. Diguncang-guncangnya tubuh gadis itu untuk memastikan masih ada sedikit nyawa disana.
Ia mengeluarkan foto kusam dari balik sakunya, sambil mengatakan, “Nak…… lihatlah ini… kamu ternyata adalah anakku… maafkan ibu naaaaakk……….”
“Naaak……..bangun nak….”
Tangan gadis itu bergerak sedikit. Dibuka perlahan matanya sambil tersenyum, kemudian gadis itu memejamkan matanya kembali. Tubuhnya terkulai lemas. Malaikat maut berpakaian putih dengan sayap bulu angsa segera datang dari balik tirai birunya. Kini ia berdiri dibelakang mereka sembari menarik ruh gadis itu.
Lagi-lagi. Bising menghilang, semua terdiam, angin berhenti, nafas juga terhenti. Semua membelalakkan mata.
Kemudian layar merah menutup panggung diiringi musik kesedihan. Terdengar tepuk tangan membahana dimana-mana. Beberapa masih ada yang gusar hatinya, beberapa yang lain ada yang mencoba mengatur nafas lagi.
Hebaatt…keren!!!
Sedangkan dibelakang layar, dua wanita ini tersenyum senang dengan rasa bangga yang menyelimut. Mereka terkekeh-kekeh, disusul teman-temannya yang lain.
“Mantab aktingmu Yul, lihat tuh penonton disana, pada nangis semua kamu buat.”
 “Hehehe…biasa aja”, jawab Yuli mencoba merendah, aktor ‘si gadis’ pada pementasan teater tadi. Sambil beradu pujian, gelak tawa mereka lepas semua, mulai yang hanya sebagai penata lampu sampai pemeran penyapu jalanan.
Tiba-tiba, seorang pria tinggi semampai lengkap dengan celana dasar -penanda sebagai penghuni mesjid kampus- lewat. Srrreeett…….Ya, hanya lewat. Kebetulan lokasi belakang panggung tepat ditangah jalan menuju mesjid. Angin kemudian berhembus searah kepergiannya. Daun-daun berguguran. Darah Yuli berdesir. Pembicaraan berhenti sejenak. Pria bercelana dasar telah merampas senjanya hari itu.
 “Yuli?! Hahahaha…loe naksir ya sama anak mesjid itu?hihi…”, pemeran ibu tua berambut putih bernama Icha, memainkan tangannya keatas-kebawah didepan wajah Yuli.
“Aah…siapa bilang? Gak ah…”, jawab Yuli mengelak. Rupanya balon khayal Yuli menghiasi langit-langit.
“ Cha…gue mau masuk organisasi mahasiswa muslim, gimana menurut loe???”
“Haaaa…??? Gak, loe fokus teater aja. Kita senior berat disini. Artis kampus, bro….”, jawab Icha sambil membesarkan matanya kuat-kuat dengan telunjuknya diarahkan  kewajah Yuli. Ia cuma bisa manyun. Tapi diam-diam Yuli menyusun strategi lain.


Diantara kerumunan wanita yang akrab disapa akhwat dan kerumunan pria yang juga akrab disapa ikhwan, ternyata ada wajah asing seorang. Wajah asing itu Yuli. Eh, bukan bukan bukan, maksudnya wajahnya memang familiar dijagat kampus, tapi kali ini ia terlihat asing, karna berada diperkumpulan yang berbeda. Yuli datang memenuhi undangan yang rutin dikirim oleh anak-anak mesjid ke forum teaternya setiap dua minggu sekali.
Tapi seiring acara berlangsung, ia melihat banyak gaya pergaulan yang bertentangan dari konsep pergaulan islami. Yang ia tahu saat sekolah di Madrasah Aliyah dulu, antara laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur baur, bercanda riang tanpa alasan syar’i, menjaga batasan, juga bahkan dilarang saling berjabat tangan atau bersentuhan antara lain muhrim. Ah….. ternyata sama aja mereka, gumamnya.
Yuli terus saja menggerutu dalam hatinya, sedang sang pangeran yang ia cari juga tak kunjung terlihat. Sampai akhirnya, kebetulan dalam acara perkumpulan kali itu dibuka sesi studi kasus untuk membahas suatu masalah kemudian akan didiskusikan bersama. Waw, kesempatan gue nih….bisiknya senang.
Dengan sedikit kemampuan memukau panggung ala teaternya, ia langsung berdiri mengacungkan tangan memohon bicara.
Puluhan pasang mata menyorot bidiknya kearah Yuli. Dengan nada tegas, ia membuka diskusi pertama. “Gimana pendapat kalian, jika sekiranya ada organisasi islam dikampus kita, tapi ternyata orang-orang didalamnya gak jaga hijab, sama aja seperti yang lain???”
Kemudian beberapa orang mencoba untuk menjawab. Ada yang pro, ada yang kontra. Setiap statement aneh dari mereka yang ia anggap sebagai pembangkangan dari nalarnya, ia balas habis-habisan. Taaar….taaar…taaar….begitu gambarannya, semua ditembak dengan kata-katanya dan satu persatu dari mereka berguguran.
“Sesungguhnya seseorang diantaramu ditikam dari kepalanya dengan jarum dari besi adalah lebih baik daripada menyentuh seseorang yang bukan mahramnya”, Yuli menyambung gagasannya, kali ini hadist Thabrani ia keluarkan. Orang-orang bertambah keheranannya. Heh! Jangan salah sangka. Gini-gini bintang kelas saat Madrasah dulu. Meskipun ia tau, sebenarnya teori-teori itu tak pernah ia terapkan lagi saat ini.
Lalu, tanpa ada petir, riak, gelombang, hujan, bahkan badai, sesosok pria berdiri memohon bicara. Peserta lainnya mencoba mengheningkan suara agar lebih mudah menangkap apa yang ingin disampaikan pria ini. Yuli tersenyum lebar. Ternyata pria itu, pria bercelana dasar incarannya. Perlahan hatinya berdegub kencang. Ia takut kalau ternyata pria bercelana dasar ini malah ikut-ikutan menjadi musuh dalam selimut.
“Saya rasa memang benar apa yang dikatakan saudari kita. Kita sudah jauh dari pergaulan islami. Ini dilema yang sudah lama ingin saya sampaikan kepada teman-teman. Hanya saja saya masih belum menemukan waktu yang tepat. Sudah saatnya kita benahi lagi pergaulan ini. Mulai membenahi semua, terutama hijab, batasan-batasan……..bla…,bla…,bla..”, pemaparan pria bercelana dasar semakin lama tak tertangkap lagi dalam otak Yuli, mungkin bisa dilihat kakinya sudah tak memijak tanah. Mhm……Dasar yuli!!!
Selesai acara. Pria bercelana dasar ini menghampirinya. Hatinya spontan berbunga-bunga.
“Maaf atas kejadian tadi. Saya tidak menyangka ternyata juga ada yang merasakan ketidaknyamanan dari pandangan yang kurang baik ini. Teman-teman disini memang sudah lupa dengan hal penting itu. Oh ya…mau ya ikut Pengajian rutin setiap hari sabtu jam 10 pagi dimesjid Ukhuwah”.
“Oooh….o..oke…saaa…saya ikut.”, cepat-cepat ia jawab dengan nada tergagap. Rupanya bakat aktingnya tak berperan disini. Sebenarnya ia kurang tahu maksudnya pengajian rutin itu apa. Tapi, siapa peduli?
Waktu terus berjalan. Hingga tibalah hari yang ia tunggu-tunggu, sabtu jam 10 pagi dimesjid ukhuwah. Yuli dengan pakaian sederhananya mulai melangkahkan kaki untuk bersiap-siap menimba ilmu, sekaligus menyelam minum air. Rutinitas ini terus berjalan. Dari minggu ke minggu, bulan ke bulan. Hingga genap dua tahun sudah lamanya. Tanpa sadar, Yuli berkembang bak mawar berduri. Cantik, anggun, terjaga pandangan juga pergaulannya. Mhm…. memang, tarbiyah bukanlah segala-galanya, tapi tanpa tarbiyah segala-galanya tidak dapat diraih. Ia terlihat lebih bijaksana. Senyumnya lembut, tatapannya menyegarkan. Setiap kata-katanya dapat menjadi penyemangat teman-teman yang lain, seakan ada energi isi ulang saat melihat keteduhannya. Wah…ada apa ini???
“Kelompok Khadijah”, begitu nama yang diberikan pada kelompok khusus akhwat yang Yuli ikuti selama ini. Disitu ia ditempa kiri kanan, atas bawah, bak besi agar layak pakai. Dia bahkan baru tau, ternyata kaki juga masih aurat bagi wanita. Akhirnya kini kaus kaki warna-warni selalu menghias dibalik sendal sepatunya. Pakaian dilonggarkannya. Jilbab dirapikannya hingga menutup dada. Tak lupa sedikit sentuhan atribut, manset tangan yang serasi lembut dengan warna bajunya. Al-qur’an tafsir beserta al-ma’tsurat berwarna merah maron juga kini selalu berada dalam tasnya. Bicaranya kini tentang siroh nabawiyah, islam, iman, dan lain-lain. Mhm…………..
Tapi ngomong-ngomong, kemana target awalnya ya? Si pria becelana dasar yang sudah ia ketahui kini namanya, Agus.
Oh…..rupanya Agus ini sudah mulai ia lupakan. Atau bahkan sudah terlupakan. Kini ia dimabukkan rasa cinta yang menyelimut kepada Sang Pemilik Cinta Rabbul Izzati dan RasulNya. Ada kerinduan dalam energi besar bagi nuraninya yang menginginkan perubahan. Iya, ia menginginkan perubahan. Tak tanggung-tanggung, bahkan kini ia masuk dalam jajaran para aktivis dakwah.
“Kita harus merindukan Rasulullah Cha…itu yang akan membuat kita semakin berharga nanti saat menghadap Allah!”, celetuk Yuli sepulang dari Ta’lim, mencoba untuk mendakwahi sahabat satu kost nya ini.
 “Ciee…yang dah jadi bu Ustadz sekarang”.
“Eh…bukan gitu Cha…ini serius. Diakhirat nanti, Allah akan mengumpulkan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Nah, kalau kita cinta sama Rasulullah, meskipun amalan kita tak sebaik beliau, kita bisa dikumpulkan sama-sama.. Enak gak tuh???”. Icha cuma bisa nyengir-nyengir dengan perasaan bersalah.

Sejak dari tadi pagi Yuli berdiam diri. Wajahnya kusut, ditekuknya seperti kertas lipat. Tak banyak kata-kata yang ia keluarkan. Biasanya sebelum subuh, Yuli sudah mulai membuat keributan membangunkan teman-temannya untuk sholat subuh berjamaah. Hari ini tidak. Bahkan ia tak pergi kekampus.
“Bolos ya Yul…???”, tanya Icha heran.
“Demam nih. Gak enak badan”.
Icha langsung menempelkan punggung tangannya ke kening Yuli. “Whhooy..mana panas ini! Sehat wal’afiaaat!!!”, teriak icha. Yuli tak menghiraukannya. Ia masih dengan wajah kusutnya. Cepat-cepat ia kunci pintu kamarnya, menyendiri.
Ditatapnya lagi layar handphone berwarnanya. Kotak masuknya penuh dengan SMS dari seorang ikhwan yang sudah membuat hatinya ternodai. Yuli terkena virus merah jambu! Ikhwan ini adalah…..si pria bercelana dasar, Agus.
Badannya langsung panas. Serasa bulan terbit disiang hari, tak menyangka sosok ikhwan teladan pertama kali yang ia kenal dalam dunia dakwah ternyata melempar statement of love padanya. Dan yang membuat ia tak tentram, kalimat itu disampaikan oleh orang yang memang ia taksir dulu. Ya Allah, Ujian kah ini???
Disatu sisi, kisah cintanya bagai dayung bersambut. Terjawablah sudah penasaran dan ke-GR-annya selama ini. Tapi disisi lain, seperti ada penodaan terhadap energi besar bagi nuraninya yang merindukan perubahan. Ia teringat dengan kata murabbinya, “Bisa jadi suatu lembaga dakwah akan menjadi hancur, karena didalamnya ada anggotanya yang berbuat maksiat. Sama halnya seperti najis satu tetes, yang ternyata dapat merusak kesucian satu gentong air. Karena najis itu itu akan merusak kesucian semangat teman-temannya yang lain dalam dakwah ini.”
Atau kalimat yang lainnya, “Jika ada seorang ikhwan yang berani mengatakan perasaannya kepada seorang akhwat, berarti sudah berani untuk mengkhitbah si akhwat tersebut. Namun jika ternyata ikhwan tersebut hanya ingin mengungkapkan perasaan yang ia pendam pada waktu yang belum tepat, itu hanya akan mendzolimi hati si akhwat”.
Begitulah, silih berganti kalimat nasehat menari-nari dalam fikirannya. Seperti peraduan malaikat putih dan syetan merah. Siapa yang menang?
Hari berlalu… masih dalam perang hati antara yang haq dan bathil. Dan dengarkan apa keputusannya, “ Ya Allah…lebih baik kugadaikan sejuta rasa ini agar dapat membayar cintaku padaMu, daripada harus kugadaikan akhiratMu hanya karna nafsuku. Cukup suamiku kelak sajalah sebagai guru cinta pertamaku. Semoga keputusan ini membuat Allah Ridho, dan ia berikan jodoh yang terbaik untukku. amin”.
Wouw…keren! Saya sebagai penulis, akan mendoakannya, “ Ya Allah….jagalah hati hamba-hambaMu yang sedang belajar untuk istiqomah”.
Ujian cinta tahap awal bisa dinyatakan lulus. Cinta emang fitrah, tapi kita punya ‘fu-ad’ euy, untuk memberikan ruang fikir dalam menghadapi masalah. Disaat pemuda biasa lainnya berlumuran perintegrasian syahwat, mengumbar nafsu sana-sini. Disaat ada aktivis yang menodai jalan dakwah lewat HTSnya. Justru dibenua sebelah sini, seorang akhwat mencoba untuk menjaga kesholehan dirinya. Karena ketahuilah, sesuatu yang dimulai dari yang tidak Allah Ridhoi, maka akan berakhir berantakan, tercabik-cabik oleh kebangkangan hati. Tapi, jika kita berusaha meninggalkan yang haram, untuk mendapatkan yang halal, maka Allah akan memberikan lebih dari yang kita inginkan. Dakwah adalah sesuatu yang suci. Qod aflaha man zakkaha (Beruntunglah orang yang membersihkan diri). Wa qod khoba man dassaha (Dan celakalah orang yang mengotori dirinya)...

           
Semester akhir diperkuliahan. By the way, sepertinya cerita ini pakai episode marathon ya? Hehehe…tak bermaksud kejar tayang. Memang belum masuk kepada yang intinya. Oke lanjut…
15 November
            Puluhan toga hitam berjejal sesak didalam gedung besar. Hari itu, ratusan mahasiswa menanti kata usai dari perjalanan dalam status mahasiswanya. Para dosen yang mereka banggakan hadir dengan penuh wibawa, sebagai suatu kegemilangan telah mencetak putra bangsa. Dibalik itu, ada kisah mahasiswa berprestasi dengan IP yang selalu kumlout, ada kisah mahasiswa nasakom (nilai satu koma), ada kisah mahasiswa dengan sosialitas tinggi dalam berbagai organisasi, ada mahasiswa yang hanya mengenal jalan pulang antara kampus dan kostnya, ada kisah mahasiswa yang hadir dengan prinsip-prinsip dari ideologisnya, ada mahasiswa yang terpaksa membebek budaya entah darimana datangnya. Semua beragam. Tapi ada kisah menarik dari Yuli…..
            Sosok anggun seorang ibu masuk perlahan kedalam gedung wisuda memesona. Sosok cinta dengan penuh balutan keanggunan seorang wanita. Seperti sedang menjaga dengan kehangatan pelukan. Ruangan seakan menyeruak, aroma bunga-bunga lengkap dengan penggambaran imajinasi menari-nari menghias sekelilingnya.
            Ada calon jundi dakwah yang sedang tertidur lelap didalam rahimnya. Ya, ‘Aisyah kecil sedang menghitung hari. Kelak, ‘Aisyah kecil-nyalah yang akan menyalakan lampu untuk melanjutkan mimpi indah yang belum ia selesaikan. Menebarkan kebajikan, menghentikkan kebiadaban, menyeru pada keimanan. Walau duri merantaskan kaki, walau kerikil memecah telapak.


Dedicated for: Umi…… ^_^
Dedicated for: " . " yang pernah menghuni �hati�..Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya .. Lalu, kucoba kembali atur gelombang asa.. Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu..

0 komentar:

Posting Komentar