SEMUA ADALAH HIKMAH


Hari itu, aku mengukir sejuta harapan. Terpaut seribu wajah dalam sentuhan dan linangan airmata. Rautku tak berirama, tak selaras, tak berimbang. Tangan-tanganku mulai kaku. Otakku menumpul.
Kemarin, aku mendengar suara kicauan burung. Hari ini tidak. Tidak sama sekali. Langit seolah kelabu. Ada sebuah pesan silau kemarahan dibaliknya. Sedang aku, semakin tenggelam dalam dan jauh. Pandangan mereka boleh tak seindah pelangi yang kulihat sehabis hujan. Sorot mata mereka boleh tak selembut embun dipagi hari. Karna memang bukan sebuah keindahan ataupun kelembutan yang akan mereka saksikan. Melainkan sebuah keburukan. Aku tak menyalahkan siapapun, karena aku memang lebih akrab dengan julukan yang mereka berikan sebagai anak sampah yang tak berguna. Inilah kisahku…
Namaku sandi. Aku adalah anak terakhir dari 4 bersaudara. Ayahku adalah seorang brimob yang ditugas kerjakan di Aceh. Hidupku bisa dibilang sangat berkecukupan dengan gaji ayahku. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Semua kebutuhan keluarga kami dapat terpenuhi, tanpa pernah kekurangan.  Dan, inilah awal kisahku. Kisah, yang mengantarkanku mengapa bisa begini.
Dulu, saat aku baru mulai merasakan menjadi siswa dibangku SMP, ayahku pensiun dari kerjanya sebagai brimob. Aku sempat sedih sekali. Kehidupanku tak seperti yang dulu lagi. Hari-hari kami lalui dengan serba kekurangan. Aku sempat bertanya pada ayah, kenapa ayah berhenti. Ayah hanya menjawab, “senior ayah ada yang tidak suka dengan kesuksesan ayah.” Aku hanya diam.
Semakin lama waktu berjalan, aku pun semakin besar. Aku sudah berusia 14 tahun, tepatnya kelas 3 SMP. Selama itu juga aku harus tampil dengan kehidupan baruku yang selalu dan serba kekurangan. Tak hanya itu, perangai ayahku mulai berubah perlahan-lahan namun pasti. Perangai ayah yang selalu membuat ibu menangis setiap hari. Dana pensiun ayah juga yang sangat minim itu semua habis hanya untuk kesenangannya berhura-hura dan memiliki istri simpanan. Ayah tak pernah lagi peduli pada ibu, aku dan kakak-kakakku.
Setiap ayah pulang, ayah selalu saja memarahi ibu. Menurutku apa yang ibu lakukan adalah wajar. Ibu hanya meminta uang untuk kebutuhan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan aku dan katiga kakakku. Tapi apa yang dilakukan ayah? Ayah malah balik memarahi ibu. Ayah selalu saja bertengkar dengan ibu. Aku berfikir, ayah mungkin sudah tak lagi peduli pada kami. Yang ada didalam fikiran ayah hanyalah bagaimana mencukupi kehidupan ayah yang bebas itu.
Saat itu perasaanku semakin terpuruk. Terpuruk bukan karna hanya memikirkan kehidupanku yang kekurangan, bukan hanya memikirkan ayahku yang tidak lagi peduli pada kami, bukan juga ingatanku pada perkelahian ayah dan ibu, tapi juga tentang sekolahku. Sekolah, yang dimana aku bisa memiliki teman banyak, guru-guru dan segudang pengetahuan yang dapat mengasah pola fikirku. Aku terpaksa berhenti sekolah setelah lulus SMP karna sudah tidak ada dana lagi. Semua harus aku telan sendiri. Bahkan masih terbayang raut keceriaan teman-temanku. Masih terbayang gelak tawa kami bersama guru-guru saat SMP dulu. Dan sekarang, jangan pernah berharap lagi. Karna aku tak mungkin bisa melanjutkan kebangku SMA, sekolahnya pelajar berseragam abu-abu.
Aku teringat perkataan ibu saat tidak ada makanan dirumah, “Nak, untuk makan hari ini gak ada, maafkan ibuu…ibu gak ada uang untuk beli beras. Pergilah ketempat temanmu, numpang makan disana. Ibu minta maaf, nak..”
Aaahh….serasa ada sumbatan keras ditenggorokanku. Kutahan kuat-kuat airmata yang hampir saja menetes. Aku anak laki-laki, harus tegar didepan ibu. Jujur, aku tak tega melihat ibu yang terus begini. Kakakku yang lainpun tidak bisa membantu memberikan beberapa uang untuk memenuhi kebutuhan kami. Kakakku yang bernama Lisa, menikah dengan seorang pedagang kecil-kecilan. Dari hasil kerjanya untuk makan sehari-hari mereka saja tidak cukup apalagi untuk memberikan ibu uang belanja. Sedang abangku yang bernama Angga, hanya seorang satpam Rumah Sakit yang gajinya habis untuk membayar cicilan motornya dan kehidupan keluarganya. Dan Abangku yang nomor tiga, bang Sultan, beliaulah yang selama ini menemaniku dari kecil hingga sekarang, juga menjadi pengganti ayah disisiku. Bang sultan yang paling mengerti dengan keadaanku, aku selalu curhat apapun dengan bang sultan.
“Ndi, kalau begini terus, ibu bakal sakit karena beban fikiran. Untuk kita makanpun susah ndi… Abang bukannya mau niat jelek dan ingin menjerumuskanmu seperti ini. Tapi keadaan yang memaksa kita supaya begini. Mau gak kamu ikut abang cari uang?”
Dengan wajah bingung, aku mencerna ajakan abangku. Aku hanya diam memikirkan apa yang akan kami lakukan. Abang membawaku naik motor supra-nya melaju ketempat keramaian.
“Jambreeeeeeeeeeeeeeetttt!!!”, terdengar pekikan histeris dari wanita paruh baya dengan gaya necisnya. Aku kaget. Shock! Nafasku kembang kempis. Aku melihat abang segera menggas motornya dengan kecepatan tinggi melesat dan hilang dari balik keramaian menuju kedalam gang-gang kecil.
“Bang!!!ngapain kita ni?? Kenapa gak bilang sebelumnya kalau abang akan melakukan kerjaan yang sekotor ini? Ngeri tau gak bang…. Aku gak mau!!!”
Aku pun cepat-cepat turun dari motor dan meninggalkan abangku tanpa sepatah katapun.  Abang hanya menatapku kosong hingga aku pergi dan hilang dari pandangannya.
Masih tak terfikirkan olehku abang akan nekad seperti itu. Abang yang selama ini aku banggakan sekaligus menjadi pengganti ayah disisiku ternyata adalah seorang penjambret….aku tak menyangka.


@@@@@@
“Nal, kita cari uang yuk… ada gak ya yang mau menerima kita yang masih kecil gini?”, dengan tatapan bingung dan kerutan tajam aku bertanya pada Ronal, sahabat dekatku.  Ronal adalah sahabat yang paling dekat dan juga mengerti denganku setelah bang sultan. Ronal biasa dipanggil Ceper. Kehidupan keluarganya juga serba kekurangan dan tak jauh berbeda denganku.
“Peng”, begitu nama panggilanku yang biasa dipanggil oleh teman-teman. “Ikutlah denganku jadi tukang parkir, lumayanlaah..buat uang jajan”. Sambil tersenyum dengan gingsulnya yang menyeringis, akupun menyetujui tawarannya menjadi tukang parkir bersama Ronal.
Seminggu, dua minggu, aku menghitung-hitung penghasilan perminggu yang kudapatkan dari pekerjaanku sebagai tukang parkir ini, ternyata hanya Rp. 150.000,-. Dalam seminggu, aku hanya berkerja 3 hari, itupun sudah kusisihkan untuk ibuku Rp.30.000, agar ibu bisa belanja. Tapi dengan uang yang segitu, aku masih merasa belum cukup untuk membiayai kehidupanku dan ibu. Aku pernah, ketika ayah pulang, aku curi uang ayah Rp.100.000 dari dompetnya kemudian aku berikan pada ibu. Itupun kalau ada.
Tiba-tiba otakku berkerja keras memikirkan bagaimana agar aku dapat memenuhi kebutuhan aku dan ibu. Terlintas olehku tentang beberapa hari yang lalu tentang Bang Sultan. Atau…aku ikuti saja pekerjaan Bang Sultan??? “aaaahh….jangan. aku tidak boleh sempat terfikirkan untuk ikut-ikutan melakukan pekerjaan kotor itu. Aku tidak akan pernah mauuu!!!” tekadku mengeras.
Esok harinya, ketika aku sedang sibuk mengatur parkiran, Ronal si ceper datang, “Peng..lihat helm baruku, baguskan?” soraknya bahagia. Akupun ikut senang. Kemudian tanganku meraih helm itu, meskipun bekas tapi masih bagus.
“Darimana kau dapatkan peng? Hebat kau sekarang yaa…mewah hidup kau lagi..hahahahahaha”, sindirku padanya.
“Iyalah, tau gak?? Eh..tapi diam-diam aja yaa!! Ini curian, tau!! Ku ambil waktu nambang kemaren. Lumayanlah kalau dijual Rp.50.000 bisalah buat beli rokok. Haahahaahahaa..”
Aku cuma bisa terdiam. Ntah apa didalam benakku. Terbayang lagi wajah abang. Ternyata aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan abang, karna ini juga tuntutan. Kehidupan yang serba kekurangan inilah yang menuntut dan memaksa mereka untuk begini.
Terfikirkan olehku keuntungan-keuntungan yang bisa didapat dari hasil curian ceper. Mhm…. “Kawaan….ikutkanlah aku. Ajak-ajaklah. Jangan main sendiri aja kau. Aku juga mau nambah-nambah uang jajan sama uang belanja ibu ku.” dengan tampangku memelas.
“Boleh-boleh, okelah kalau gitu. Besok kita operasi yaa!! Siap kawan?”
“Okeee”, jawabku riang.
Akhirnya, satu sampai dua helm kami curi dari motor dalam sehari. Uang penghasilanku pun lumayan bisa bantu-bantu ibu. Ketika ayah dan ibu bertanya darimana uang ini, aku bilang dari hasil uang parkiran yang sengaja kusisihkan untuk ibu. Semenjak itu ibu mulai ceria dan tak murung lagi. Walau uang pas-pasan tapi ibu tidak pernah lagi berkata tak ada beras.
Seminggu, dua minggu, aku jalani pekerjaan kotorku itu dengan lancar-lancar saja. Akupun kembali mencari abangku dan meminta maaf padanya. Kemudian aku mulai ikut abang untuk menjambret, sehingga lama kelamaan aku semakin suka bergelut dengan pekerjaan seperti ini. Hidupku pun membaik. Tapi selama perjalanan itu, tak selalu lancar. Kadang kami hampir dihakimi masa, untung saja kami mampu berlari dengan kencang dan tidak tertangkap.
@@@@@@

Siang itu, tepatnya jam 2 dirumah, abang datang membawa temannya bernama Labay. Aku pun berkenalan dengannya, ternyata ia adalah spesialis dalam pencurian motor. Tiga jam lamanya kami berbincang, ilmu barupun aku dapatkan. Kami bertiga langsung mulai mencoba mengaplikasikan cara yang diajarkan Labay pada kami.
Hari pertama, kami gagal. Hari keduapun gagal. Tapi pada hari ketiga, kami berhasil menggaet mio merah diparkiran kampus Unand. Jantung kami berdebar bercampur cemas  dan senang. Kami menjual motor itu ke perantara seharga 2 juta, kemudian hasil penjualan itu kami bagi bertiga. Seterusnya akupun menjadi ahli dalam dunia curanmor. Akupun bermain sendiri, aku mulai lepas dari Bang Sultan dan Labay. Ku ajak juga temanku Ceper untuk menjalankan aksi ini berdua.
Dua tahun kujalani hidup seperti ini. Akhirnya aku pun bisa melanjutkan sekolah lagi. Aku bisa menjadi siswa SMA dan bertemu teman-teman. Hidupku juga berkecukupan, bahkan biaya sekolah aku tanggung sendiri. Tapi, pada suatu hari…….
“ANGKAT TANGAN!!! KAMU SUDAH KALAH!!” borgol ketat disumbatkan ke kedua pergelangan tanganku. Aku yang masih baru bangun tidur tersentak. Ibu menangis, ayah hanya terdiam cemas. Kakak menangis dan abang-abangku terpaku membisu melihatku. Aku hanya pasrah. Aku sudah tertangkap oleh kepolisian POLDA SUMBAR karena kasusku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku kalah. Inilah buah dari pekerjaanku.
Tiga hari ku didalam penjara tahanan. Ibu dan ayah datang. Mereka iba melihat tubuhku yang lemah. Banyak bekas memar ditubuhku karna selama proses penyidikan aku lebih banyak tidak terbuka. Hasilnya beginilah, aku dicambuk, disentrum listrik dan dipukuli. Ibu menangis memelukku..
“Nak, maafkan ibu…. Ibu gak bisa jadi ibu yang baik untukmu nak… ibu tak menyalahkanmu atas perbuatanmu. Ibu yang salah. Ibu gak bisa mencukupi kebutuhanmu sebagai anak ibu….”
Airmata tulusnya mengalir membasahi pipiku. Aku peluk ibu erat-erat. Ku tahan tangisku. Ku redam sedihku. Aku coba tegar agar ibu tenang. Hatiku betul-betul hancur melihat mereka berdua, sedihku bercampur penyesalan didalam hati. Aku sangat sayang sama ibu. Aku tak tega melihat airmata kesedihannya mengalir didepan mataku. Setelah itu ayahpun ikut memelukku sampai menangis terisak-isak. Hari itu entah kenapa, aku merasakan bagai baru punya ayah lagi. Ayah memelukku kuat sambil bercucuran airmata.
“Ndi, maafkan ayah juga ya. Ayah janji tak akan menyia-nyiakan kamu lagi, ndi..”
Dadaku bergetar. Serasa jiwaku terbang jauh. Mungkin ini semua jalan Allah SWT kepadaku, buah do’aku selama ini. Semua ada hikmahnya, walau aku harus dibalik jeruji besi kokoh ini. Namun aku bahagia bisa kembali ke dekapan ayah. Dan saat itu, ayah berubah drastis. Ayah mulai bekerja di Toko bangunan dekat rumahku. Bang Sultan juga ikut bekerja bersama ayah. Bang Angga pun lolos test Brimob. Hidup kami sekarang semakin membaik, meski aku harus terpisah dari mereka. Tapi, dari balik tiang-tiang besi ini aku tersenyum bahagia.

Inspiration by: Julio Fernanda
Created by: Zhacky Emergency

0 komentar:

Posting Komentar